| pemandangan gunung Rinjani |
Ingat kan lagu
“naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali”. Lagu ini menginspirasi saya
untuk mencoba mendaki gunung, ya ke gunung Rinjani, tahun lalu tepatnya di
bulan Mei. Ingin sekali rasanya melihat pohon cemara seperti yang ada pada
bait-bait lagu tersebut. Well, ini kisah perjalanan saya based on my true
story.
Gunung Rinjani
berdiri megah di atas permukaan laut dengan ketinggian 3726 mdpl dan termasuk
salah satu deretan gunung tertinggi di Indonesia. Gunung Rinjani menyuguhkan
pemandangan alam yang sangat indah, danau segara anak, barisan bukit, air
terjun, gunung Anak Baru jari, padang savana juga menyimpan banyak cerita serta mitos-mitos yang membuat
orang haus ingin mendengarnya. #wisatahalallombok#wiasatahalalalomboksumbawa #halaltourismID #wisatahalalindonesia
| jalur Bawa' Nao, Sembalun |
Ini pertama kali saya
mendaki ke Gunung. Saya pergi dengan tiga orang teman saya. Kala itu sehari
sebelum berangkat, temen saya tiba-tiba mengirimkan pesan kalau besok akan ke
gunung Rinjani. Saya yang terbujuk rayuan mereka, langsung bersedia untuk ikut.
Meski harus izin kerja sehari. Saya pun berpikir sejenak, ini kesempatan saya
untuk ke Rinjani, lumayan menghabislan long weekend yang jarang ada di
kalender.
Kami mulai
perjalanan dari rumah saya di Pringgasela ke desa Ssmbalun pukul 2 sore.
Sebelum berangkat, paginya saya sudah mempersiapkan apa saja yang harus saya
bawa selama mendaki dan tentunya minta
izin orang tua untuk pergi.
Sampai di sembalun
kami melakukan registrai di pos pendakian yang ada di Sembalun. Dari desa
Sembalun kami langsung menuju pos 1, rehat
dan bermalam di sana. Meski di pos 1 Rinjani
semakin terlihat jelas menyapa, hamparan savanna pun tak kalah indahnya, mulai
tumbuh tinggi nan hijau. Selain itu, saya bertemu dengan beberapa pendaki dari
luar Lombok, berkenalan dan bercengkrama sembari ditemani kopi dan teh hangat,
semakin membuat kami akrab. Senang
sekali punya teman baru bisa berbagi pengalam Selama jalan-jalan.
| menuju pos 3 |
Esok pagi sekitar
jam 9 kami mulai melanjutkan perjalanan. Menuju pos 2, terik matahari mulai
meraungkan panasnya, capek, lelah, haus dahaga sudah pasti terasa. Karena ini
kali pertama saya naik gunung, saya pun banyak rehatnya. Meski lambat, namun
semangat harus tetap ada. Pelajaran yang
saya ambil, ketika capek, jangan memaksakan untuk melanjutkan perjalanan, jangan
gengsi untuk minta istirahat mesti sebentar. Di pos 2, kami berhenti untuk
mengisi perbekalan air yang sudah habis. Pastikan di pos 2 Anda sudah punya
cukup air, karena di pos selanjutnya tidak akan ada persediaan air dan
perjalanan menuju ke Pelawangan lumayan lama.
Menuju pos
pelawangan, hari sudah semakin sore, hawa dingin sangat terasa. Di sini saya
mulai khawatir dan takut melihat medan yang agak terjal, kaki pun gemeteran dan
hampir jatuh. Saya memang sedikit ceroboh, memaksakan diri terus berjalan
padahal kaki sudah gemeteran, alhasil saya pun hampir jatuh tergelincir. Temen
saya meminta untuk istirahat, mereka mencoba mengurangi beban barang yang ada
di tas carrier saya. Kata kebanyakan pendaki, Jalur Sembalun, Lombok Timur
paling gampang, buat saya ada tantangan tersendiri.
| sunrise dari atas gunung Rinajni |
Tepat pukul 7 malam,
kami tiba di Pelawangan, kemudian kami mendirikan tenda. Saya mulai menikmati
hawa yang super dahsat dinginnya, sampai badan pun menggigil rasanya. Jaket,
kaos kaki dan kaos tangan pun langsung saya kenakan. Mie rebus dan teh hangat
jadi santapan di waktu malam. Salah satu teman saya yang jadi guide, menyarankan
untuk tidur lebih awal, karena saya berdua yang akan ke puncak. Dua teman saya
diam menjaga tenda. suasana pelawangan lumayan ramai, banyak para pendaki yang
memanfaatkan long weekend untuk mengunjungi gunung Rinjani. Saya tidak banyak
berbicara karena tak tahan dengan dinginnya udara , tidur pun menjadi satu cara
mengembalikan energi yang terporsil seharian.
Jam 2 dini hari
saya dan teman saya bergegas bangun, bersiap-siap untuk memulai perjalan yang
sebenarnya. Ditemani sir minum, madu dan
roti yang jadi bekal selama mendaki menuju puncak Rinjani. Pastikan memakai
sepatu gunung yang ukuranya pas di kaki. Para pendaki biasanya akan mulai
mendaki dini hari agar bisa melihat indahnya matahari di pagi hari dari atas
gunung Rinjani. Dari Pelawangan ke puncak memakan waktu sekitar 5-6 jam.
Hampir jam 10, matahari
terasa panas dan menyengat, serasa tepat berada di atas kepala. Namun saya
belum bisa menacapkan kaki di puncak tertinggi. Temen saya tetiba kakinya kram,
kami pun harus diam dan istirahat. Rasa hati dan semangat masih berapai-api
untuk tetap mendaki summit, namun di sini saya belajar menaggalkan keegoisan
diri. Saya tidak mungkin meninggalkan teman saya tergelatak sendiri menahan
rasa nyeri pada kaki. Akhirnya saya pun menatap puncak Rinjani meski menangis
dalam hati karena merasa gagal, menginjakkan kaki di point tertinggi Rinjani.
Dan akhirnya kami
pun kembali ke pos Pelawangan. Meski gagal mencapai puncak Rinjani, namun saya
sadar tentang banyak hal, Gunung bukan tentang dimana kamu bisa berdiri gagah
di atas puncak nya, bukan tentang foto-foto kece dengan bunga edelwais nya,
bukan pula tentang dengan danau yang jernih air nya, tapi tentang pelajaran apa
yang kamu dapatkan setelah mendaki Rinjani yang sudah diciptakan Tuhan dan
lebih sadar bagaimana beretika dengan alam.
Ada banyak hal yang
saya bisa pelajari setelah mendaki :
- Sebaiknya mengenal kondisi diri. Kalau ada menderita sakit ringan dan alergi bawalah obat-obatan. Yang lebih tahu fisik kita adalah diri sendiri.
- Kenali lah medan yang akan dilewati, dengan bertanya atau membaca postingan tentang tempat yang dituju. Agar bisa lebih waspada dan hati-hati.
- Bawalah bekal dan perlengakapan yang memudahkan dan bermanfaat. Diskusikan apa yang akan dibawa. Jangan saling mengandalkan teman.
- Jagalah selalu etika dengan alam. Setidaknya bawalah pulang sambah sendiri, mungkin dengan cara yang kecil bisa mempengaruhi para mendaki yang gak tahu diri buang sampah sembarang disana sini.
- Usahakan berpikir
positif,. Takot dan khawatir, hal yang lumrah dan sudah biasa terjadi untuk pendaki
apalagi pemula. Namun berpikirlah hal-hal yang baik yang akan terjadi.

#wisata halal lombok sumbawa
“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Promosi Lombok Sumbawa 2016 yang diselenggarakan oleh GenPI Lombok Sumbawa”http://bit.ly/genpi-blogwriting
Lomba ini siapa pemenangnya.?
BalasHapus