![]() |
| suasana senja di desa Mantar |
Cerita perjalanan
kali ini tentang pengalaman saya berada di Desa Mantar. Lewat film yang
berjudul Serdadu Kumbang, saya mengenal
nama desa Mantar. Desa Mantar terletak di desa Mantar, kecamatan Pototano,
Sumbawa Barat. Desa yang sangat terkenal dengan sebutan desa di atas awan.
![]() |
| gerbang desa Mantar |
Adapun route
perjalanan jika berangkat dari kota Mataram (Lombok): Mataram-Pelabuhan
Kayangan-Pototano-desa Tapir-desa Mantar. Anda hanya butuh nyebrang sekitar 2
jam menggunakan kapal laut ke Sumbawa Barat. Namun waktu
itu saya dan teman-teman berangkat dari Sumbawa Besar, butuh sekitar 3 jam untuk
sampai di desa Mantar. Sebelum ke desa Mantar, kami singgah dulu dan memarkir
motor di desa Tapir. Desa Tapir adalah desa yang berada di bawah desa Mantar. Kemudian kami bertemu dengan pak Andi Noman, beliau
adalah warga yang berdomisili di sana sekaligus sopir Ranger yang akan
mengantar kami ke desa Mantar. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di desa
Mantar jika menggunakan mobil Ranger, namun jika ingin soft trekking berjalan
sampai desa Mantar butuh waktu sekitar 3 jam.
Untuk menuju desa
Mantar, bisa dengan 2 alternaif yaitu menggunakan motor dan menyewa mobil Ranger. Bagi yang sudah mengusai medan, bisa dengan
motor. Namun saran saya supaya lebih aman sebaiknya menyewa mobil Ranger karena
kondisi jalan yang menanjak terjal dan bebatuan serta jurang di sampingnya meski
sekarang akses jalan sedang dalam perbaikan. Jika ingin menggunakan jasa mobil
ranger, bisa menghubungi pak Andi Noman (081935943889)
cukup dengan membayar Rp. 40000, pak Noman siap untuk mengantar dan menjemput
Anda.
![]() |
| lautan awan dari atas bukit desa Mantar |
Tiba di desa mantar
pukul 6.30 petang, Kami mulai mendirikan tenda di atas bukit, camping di desa
Mantar adalah pilihan yang sangat tepat sambil menikmati suasana langit senja
dan suasana desa Mantar yang damai nan tenang. Jika ingin camping di sana,
jangan lupa minta izin di penduduk sekitar. Di atas bukit sudah tersedia area
camping. Semakin malam udara semakin
dingin, taburan dan kilauan bintang menghiasi langit Mantar, begitu indah nan
memukau. Kelap-kelip lampu pemukiman
nampak terlihat dari atas. Ditemani api unggun dengan segelas kopi
semakin menghangatkan suasana dan mengakrabkan kami semua.
![]() |
| view dari desa Mantar |
Ketika fajar
menyapa, saya dan teman-teman saya sudah siap memburu sunrise. Perlahan
matahari mulai tersenyum manis. Yang paling menakjubkan ketika melihat lautan
awan dari desa Mantar, bak bunga kapas ringan berterbangan, ingin rasanya
bermain dengan awan-awan yang menghiasi cakrawala. Tak salah kalau desa Mantar
dijuluki negeri di atas awan, lautan awan begitu mempesona.
Sebelum pulang kami
melihat para atlet paralayang yang akan latihan dari atas bukit karena setiap
bulan September diadakan lomba paralayang di desa Mantar. Desa Mantar juga
sebagai arena buat para pegiat paralayang untuk latihan (terjun).
![]() |
| desa Mantar |
Sepertinya kaki tak
mau beranjak dari desa Mantar yang sudah memanjakan mata dengan view yang luar
biasa indah. Setelah sarapan, kami bersiap untuk kembali pulang. Sayangnya saya
belum sempat berkeliling rumah penduduk di desa Mantar karena tidak punya cukup
waktu, hanya mengambil beberapa gambar rumah dan sekolah. Namun saya akan
kembali untuk menuliskan cerita tentang keunikan dan mitos di desa Mantar.
Ingat pencinta alam boleh menikmati alam tapi
jangan lupa jaga kebersihan selagi jalan-jalan J





Tidak ada komentar:
Posting Komentar