Laman

Minggu, 20 November 2016

Lautan Awan di desa Mantar

suasana senja di desa Mantar
Cerita perjalanan kali ini tentang pengalaman saya berada di Desa Mantar. Lewat film yang berjudul Serdadu Kumbang, saya mengenal nama desa Mantar. Desa Mantar terletak di desa Mantar, kecamatan Pototano, Sumbawa Barat. Desa yang sangat terkenal dengan sebutan desa di atas awan.

gerbang desa Mantar 
Adapun route perjalanan jika berangkat dari kota Mataram (Lombok): Mataram-Pelabuhan Kayangan-Pototano-desa Tapir-desa Mantar. Anda hanya butuh nyebrang sekitar 2 jam menggunakan kapal laut ke Sumbawa Barat.   Namun waktu itu saya dan teman-teman berangkat dari Sumbawa Besar, butuh sekitar 3 jam untuk sampai di desa Mantar. Sebelum ke desa Mantar, kami singgah dulu dan memarkir motor di desa Tapir. Desa Tapir adalah desa yang berada di bawah desa Mantar.  Kemudian kami bertemu dengan pak Andi Noman, beliau adalah warga yang berdomisili di sana sekaligus sopir Ranger yang akan mengantar kami ke desa Mantar. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di desa Mantar jika menggunakan mobil Ranger, namun jika ingin soft trekking berjalan sampai desa Mantar butuh waktu sekitar 3 jam.
Untuk menuju desa Mantar, bisa dengan 2 alternaif yaitu menggunakan motor dan menyewa mobil Ranger.  Bagi yang sudah mengusai medan, bisa dengan motor. Namun saran saya supaya lebih aman sebaiknya menyewa mobil Ranger karena kondisi jalan yang menanjak terjal dan bebatuan serta jurang di sampingnya meski sekarang akses jalan sedang dalam perbaikan. Jika ingin menggunakan jasa mobil ranger, bisa menghubungi  pak Andi Noman (081935943889) cukup dengan membayar Rp. 40000, pak Noman siap untuk mengantar dan menjemput Anda.
lautan awan dari atas bukit desa Mantar
Tiba di desa mantar pukul 6.30 petang, Kami mulai mendirikan tenda di atas bukit, camping di desa Mantar adalah pilihan yang sangat tepat sambil menikmati suasana langit senja dan suasana desa Mantar yang damai nan tenang. Jika ingin camping di sana, jangan lupa minta izin di penduduk sekitar. Di atas bukit sudah tersedia area camping.  Semakin malam udara semakin dingin, taburan dan kilauan bintang menghiasi langit Mantar, begitu indah nan memukau. Kelap-kelip lampu pemukiman  nampak terlihat dari atas. Ditemani api unggun dengan segelas kopi semakin menghangatkan suasana dan mengakrabkan kami semua.
view dari desa Mantar
Ketika fajar menyapa, saya dan teman-teman saya sudah siap memburu sunrise. Perlahan matahari mulai tersenyum manis. Yang paling menakjubkan ketika melihat lautan awan dari desa Mantar, bak bunga kapas ringan berterbangan, ingin rasanya bermain dengan awan-awan yang menghiasi cakrawala. Tak salah kalau desa Mantar dijuluki negeri di atas awan, lautan awan begitu mempesona.
Sebelum pulang kami melihat para atlet paralayang yang akan latihan dari atas bukit karena setiap bulan September diadakan lomba paralayang di desa Mantar. Desa Mantar juga sebagai arena buat para pegiat paralayang untuk latihan (terjun).
desa Mantar 
Sepertinya kaki tak mau beranjak dari desa Mantar yang sudah memanjakan mata dengan view yang luar biasa indah. Setelah sarapan, kami bersiap untuk kembali pulang. Sayangnya saya belum sempat berkeliling rumah penduduk di desa Mantar karena tidak punya cukup waktu, hanya mengambil beberapa gambar rumah dan sekolah. Namun saya akan kembali untuk menuliskan cerita tentang keunikan dan mitos di desa Mantar.
Ingat pencinta alam boleh menikmati alam tapi jangan lupa jaga kebersihan selagi jalan-jalan J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar