Laman

Kamis, 15 Desember 2016

Tweets For Life

Apakah kamu tidak punya waktu untuk membaca buku? Travelling? Atau bahkan tidak punya waktu membuat teh untuk dirimu dan sahabatmu? Berapa buku yang sudah kamu baca bulan lalu, jangan-jangan tidak ada atau hanya satu bab?
Saya tahu masalahmu, well mungkin tentang waktu, jadi saya mereview buku dari Desi Anwar “Tweet for Life” buku yang berisi tweet-tweet sederhana namun syarat dengan makna. Buku yang hanya tamat dibaca satu jam saja dengan full content 200 kata-kata bijak yang mencerahkan jiwa.  Buku ini juga ditulis dalam 2 bahasa; Inggris dan Indoneisa sehingga bisa menambah perbendaharaan kata terutama untuk kamu yang sedang belajar Bahasa Inggris. So satu jam saja, bercintalah dengan buku ini.
Buku “Tweet for Life” yang berisi 200 tweets ini adalah resep hidup bahagia, sehat dan seimbang. Dilengkapi dengan gambar-gambar epic hasil dari melanglang buana sang penulis ke berbagai belahan dunia.  Tweet yang terdiri dari deretan kalimat singkat ini bisa mengubah cara pandang dan menyadarkan kita tentang arti hidup. Simple namun sangat mengena.
DesI Anwar, senior anchor, TV journalist, producer photographer sekaligus seorang writer, membagi buku ini menjadi tiga bagian.
Bagian satu buku ini mentweet hal-hal tentang “taking care of your body”. Tweet-tweet magic yang yang mengupas  pentingnya menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, me-manage gejolak emosi dan amarah, nutrisi makanan sehat, pikiran postif, senyuman, bahkan sesimple minum teh di pagi hari.  Tweet yang saya paling suka dan sangat merepresentasikan bagian satu buku ini adalah “don’t just feed your stomach, nourish also your mind” (Hal.43). karena selain perut, kepala juga perlu di isi dengan nutrisi.
Tentang Hidup yang tidak hanya terfokus pada diri sendiri. Namun kita juga butuh makhluk lain untuk saling melengkapi. Well, di bagian kedua buku ini mengupas “My Self and Others” tentang bagimana mengambil keputusan, penolakan pendapat, kekecewaan, kepercayaan, hubungan, keterlambatan, kekhawatiran, penilaian, kesuksesan, pemberian, membuat orang bahagia, tertawa, teman, rasa sukur dan motivasi. Bahkan sesederhana mengicaukan ucapan terima kasih dan menyodorkan senyuman termanis.  Practice simple kindness daily. A simple “thank you” and a little smile can go a long way (Hal 153), ini tweets favorite saya.
Memberi santapan sehat pada perut itu penting, dan  tidak kalah crusialnya dangan memberikan nutrisi hati untuk kesehatan rohani. Banyak hal yang mengusik ketenangan dan kedamaian hati seperti kegagalan, kesalahan, beban di masa lalu, kebohongan dan kemunafikan diri. Kekhawatiran pun muncul ketika mengingat kelemahan, rintangan, ketakutan, keegoisan, ketidaktahuan bahkan ketika kekosongan kantong yang tak berkesudahan. Karena kiat menanamkan damai dalam hati adalah seperti tweet yang paling saya sukai “If you start your day with gratitude, everything that happens is a blessing (hal 311) karena bersyukur adalah kebahagiaan sejati yang membuat hati damai dan tenang dalam harmony.
Kebahgiaaan bukan sesuatu yang bersifat kebendaan tapi lebih kepada bagaimana kita membuat kehidupan kita mejadi lebih bermakna.
Buku Tweets for Life tebalnya  sekitar 421 halaman. Buku ini cukup merogah kantong, but it’s worthed, harganya sekitar Rp. 125.000. Hanya butuh satu jam untuk menyantap buku ini dan sangat cocok untuk dibaca ketika kegalauan sedang melanda.  


Rabu, 30 November 2016

Oleh-oleh dari gunung Rinjani

pemandangan gunung Rinjani
Ingat kan lagu “naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali”. Lagu ini menginspirasi saya untuk mencoba mendaki gunung, ya ke gunung Rinjani, tahun lalu tepatnya di bulan Mei. Ingin sekali rasanya melihat pohon cemara seperti yang ada pada bait-bait lagu tersebut. Well, ini kisah perjalanan saya based on my true story.
Gunung Rinjani berdiri megah di atas permukaan laut dengan ketinggian 3726 mdpl dan termasuk salah satu deretan gunung tertinggi di Indonesia. Gunung Rinjani menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah, danau segara anak, barisan bukit, air terjun, gunung Anak Baru jari, padang savana juga menyimpan  banyak cerita serta mitos-mitos yang membuat orang haus ingin mendengarnya. #wisatahalallombok#wiasatahalalalomboksumbawa #halaltourismID #wisatahalalindonesia
jalur Bawa' Nao, Sembalun

Ini pertama kali saya mendaki ke Gunung. Saya pergi dengan tiga orang teman saya. Kala itu sehari sebelum berangkat, temen saya tiba-tiba mengirimkan pesan kalau besok akan ke gunung Rinjani. Saya yang terbujuk rayuan mereka, langsung bersedia untuk ikut. Meski harus izin kerja sehari. Saya pun berpikir sejenak, ini kesempatan saya untuk ke Rinjani, lumayan menghabislan long weekend yang jarang ada di kalender.  



Kami mulai perjalanan dari rumah saya di Pringgasela ke desa Ssmbalun pukul 2 sore. Sebelum berangkat, paginya saya sudah mempersiapkan apa saja yang harus saya bawa  selama mendaki dan tentunya minta izin orang tua untuk pergi.
Sampai di sembalun kami melakukan registrai di pos pendakian yang ada di Sembalun. Dari desa Sembalun kami langsung menuju pos 1,   rehat dan bermalam di sana. Meski di pos 1 Rinjani semakin terlihat jelas menyapa, hamparan savanna pun tak kalah indahnya, mulai tumbuh tinggi nan hijau. Selain itu, saya bertemu dengan beberapa pendaki dari luar Lombok, berkenalan dan bercengkrama sembari ditemani kopi dan teh hangat, semakin membuat kami akrab.  Senang sekali punya teman baru bisa berbagi pengalam Selama jalan-jalan.
menuju pos 3
Esok pagi sekitar jam 9 kami mulai melanjutkan perjalanan. Menuju pos 2, terik matahari mulai meraungkan panasnya, capek, lelah, haus dahaga sudah pasti terasa. Karena ini kali pertama saya naik gunung, saya pun banyak rehatnya. Meski lambat, namun semangat harus tetap ada.  Pelajaran yang saya ambil, ketika capek, jangan memaksakan untuk melanjutkan perjalanan, jangan gengsi untuk minta istirahat mesti sebentar. Di pos 2, kami berhenti untuk mengisi perbekalan air yang sudah habis. Pastikan di pos 2 Anda sudah punya cukup air, karena di pos selanjutnya tidak akan ada persediaan air dan perjalanan menuju ke Pelawangan lumayan lama.
Menuju pos pelawangan, hari sudah semakin sore, hawa dingin sangat terasa. Di sini saya mulai khawatir dan takut melihat medan yang agak terjal, kaki pun gemeteran dan hampir jatuh. Saya memang sedikit ceroboh, memaksakan diri terus berjalan padahal kaki sudah gemeteran, alhasil saya pun hampir jatuh tergelincir. Temen saya meminta untuk istirahat, mereka mencoba mengurangi beban barang yang ada di tas carrier saya. Kata kebanyakan pendaki, Jalur Sembalun, Lombok Timur paling gampang, buat saya ada tantangan tersendiri.
sunrise dari atas gunung Rinajni
Tepat pukul 7 malam, kami tiba di Pelawangan, kemudian kami mendirikan tenda. Saya mulai menikmati hawa yang super dahsat dinginnya, sampai badan pun menggigil rasanya. Jaket, kaos kaki dan kaos tangan pun langsung saya kenakan. Mie rebus dan teh hangat jadi santapan di waktu malam. Salah satu teman saya yang jadi guide, menyarankan untuk tidur lebih awal, karena saya berdua yang akan ke puncak. Dua teman saya diam menjaga tenda. suasana pelawangan lumayan ramai, banyak para pendaki yang memanfaatkan long weekend untuk mengunjungi gunung Rinjani. Saya tidak banyak berbicara karena tak tahan dengan dinginnya udara , tidur pun menjadi satu cara mengembalikan energi yang terporsil seharian.
Jam 2 dini hari saya dan teman saya bergegas bangun, bersiap-siap untuk memulai perjalan yang sebenarnya.  Ditemani sir minum, madu dan roti yang jadi bekal selama mendaki menuju puncak Rinjani. Pastikan memakai sepatu gunung yang ukuranya pas di kaki. Para pendaki biasanya akan mulai mendaki dini hari agar bisa melihat indahnya matahari di pagi hari dari atas gunung Rinjani. Dari Pelawangan ke puncak memakan waktu sekitar 5-6 jam.

Hampir jam 10, matahari terasa panas dan menyengat, serasa tepat berada di atas kepala. Namun saya belum bisa menacapkan kaki di puncak tertinggi. Temen saya tetiba kakinya kram, kami pun harus diam dan istirahat. Rasa hati dan semangat masih berapai-api untuk tetap mendaki summit, namun di sini saya belajar menaggalkan keegoisan diri. Saya tidak mungkin meninggalkan teman saya tergelatak sendiri menahan rasa nyeri pada kaki. Akhirnya saya pun menatap puncak Rinjani meski menangis dalam hati karena merasa gagal, menginjakkan kaki di point tertinggi Rinjani.
Dan akhirnya kami pun kembali ke pos Pelawangan. Meski gagal mencapai puncak Rinjani, namun saya sadar tentang banyak hal, Gunung bukan tentang dimana kamu bisa berdiri gagah di atas puncak nya, bukan tentang foto-foto kece dengan bunga edelwais nya, bukan pula tentang dengan danau yang jernih air nya, tapi tentang pelajaran apa yang kamu dapatkan setelah mendaki Rinjani yang sudah diciptakan Tuhan dan lebih sadar bagaimana beretika dengan alam.
Ada banyak hal yang saya bisa pelajari setelah mendaki :
  • Sebaiknya mengenal kondisi diri. Kalau ada menderita sakit ringan dan alergi bawalah obat-obatan. Yang lebih tahu fisik kita adalah diri sendiri.
  • Kenali lah medan yang akan dilewati, dengan bertanya atau membaca postingan tentang tempat yang dituju. Agar bisa lebih waspada dan hati-hati.
  • Bawalah bekal dan perlengakapan yang memudahkan dan bermanfaat. Diskusikan apa yang akan dibawa. Jangan saling mengandalkan teman.
  • Jagalah selalu etika dengan alam. Setidaknya bawalah pulang sambah sendiri, mungkin dengan cara yang kecil bisa mempengaruhi para mendaki yang gak tahu diri buang sampah sembarang disana sini.
  • Usahakan berpikir positif,. Takot dan khawatir, hal yang lumrah dan sudah biasa terjadi untuk pendaki apalagi pemula. Namun berpikirlah hal-hal yang baik yang akan terjadi.
    #wisata halal lombok sumbawa

    Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Promosi Lombok Sumbawa 2016 yang diselenggarakan oleh GenPI Lombok Sumbawahttp://bit.ly/genpi-blogwriting

Minggu, 20 November 2016

Lautan Awan di desa Mantar

suasana senja di desa Mantar
Cerita perjalanan kali ini tentang pengalaman saya berada di Desa Mantar. Lewat film yang berjudul Serdadu Kumbang, saya mengenal nama desa Mantar. Desa Mantar terletak di desa Mantar, kecamatan Pototano, Sumbawa Barat. Desa yang sangat terkenal dengan sebutan desa di atas awan.

gerbang desa Mantar 
Adapun route perjalanan jika berangkat dari kota Mataram (Lombok): Mataram-Pelabuhan Kayangan-Pototano-desa Tapir-desa Mantar. Anda hanya butuh nyebrang sekitar 2 jam menggunakan kapal laut ke Sumbawa Barat.   Namun waktu itu saya dan teman-teman berangkat dari Sumbawa Besar, butuh sekitar 3 jam untuk sampai di desa Mantar. Sebelum ke desa Mantar, kami singgah dulu dan memarkir motor di desa Tapir. Desa Tapir adalah desa yang berada di bawah desa Mantar.  Kemudian kami bertemu dengan pak Andi Noman, beliau adalah warga yang berdomisili di sana sekaligus sopir Ranger yang akan mengantar kami ke desa Mantar. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di desa Mantar jika menggunakan mobil Ranger, namun jika ingin soft trekking berjalan sampai desa Mantar butuh waktu sekitar 3 jam.
Untuk menuju desa Mantar, bisa dengan 2 alternaif yaitu menggunakan motor dan menyewa mobil Ranger.  Bagi yang sudah mengusai medan, bisa dengan motor. Namun saran saya supaya lebih aman sebaiknya menyewa mobil Ranger karena kondisi jalan yang menanjak terjal dan bebatuan serta jurang di sampingnya meski sekarang akses jalan sedang dalam perbaikan. Jika ingin menggunakan jasa mobil ranger, bisa menghubungi  pak Andi Noman (081935943889) cukup dengan membayar Rp. 40000, pak Noman siap untuk mengantar dan menjemput Anda.
lautan awan dari atas bukit desa Mantar
Tiba di desa mantar pukul 6.30 petang, Kami mulai mendirikan tenda di atas bukit, camping di desa Mantar adalah pilihan yang sangat tepat sambil menikmati suasana langit senja dan suasana desa Mantar yang damai nan tenang. Jika ingin camping di sana, jangan lupa minta izin di penduduk sekitar. Di atas bukit sudah tersedia area camping.  Semakin malam udara semakin dingin, taburan dan kilauan bintang menghiasi langit Mantar, begitu indah nan memukau. Kelap-kelip lampu pemukiman  nampak terlihat dari atas. Ditemani api unggun dengan segelas kopi semakin menghangatkan suasana dan mengakrabkan kami semua.
view dari desa Mantar
Ketika fajar menyapa, saya dan teman-teman saya sudah siap memburu sunrise. Perlahan matahari mulai tersenyum manis. Yang paling menakjubkan ketika melihat lautan awan dari desa Mantar, bak bunga kapas ringan berterbangan, ingin rasanya bermain dengan awan-awan yang menghiasi cakrawala. Tak salah kalau desa Mantar dijuluki negeri di atas awan, lautan awan begitu mempesona.
Sebelum pulang kami melihat para atlet paralayang yang akan latihan dari atas bukit karena setiap bulan September diadakan lomba paralayang di desa Mantar. Desa Mantar juga sebagai arena buat para pegiat paralayang untuk latihan (terjun).
desa Mantar 
Sepertinya kaki tak mau beranjak dari desa Mantar yang sudah memanjakan mata dengan view yang luar biasa indah. Setelah sarapan, kami bersiap untuk kembali pulang. Sayangnya saya belum sempat berkeliling rumah penduduk di desa Mantar karena tidak punya cukup waktu, hanya mengambil beberapa gambar rumah dan sekolah. Namun saya akan kembali untuk menuliskan cerita tentang keunikan dan mitos di desa Mantar.
Ingat pencinta alam boleh menikmati alam tapi jangan lupa jaga kebersihan selagi jalan-jalan J


Rabu, 28 September 2016

Pesona Gili Poh

Mercusuar yang ada di gili Poh
Daerah Sekotong merupakan salah satu desa yang terletak di kabupaten Lombok Barat yang kini semakin dikenal oleh para wisatawan karena mempunyai banyak pantai dan gili (pulau kecil) yang sangat indah. Diantaranya gili Nanggu, Sudak, Kedis, Layar, Asahan, Rengit, Goleng, Poh dan masih banyak gili lainnya. Namun kali ini saya akan share tentang trip saya ke gili Poh.
pemandangan dari gili Poh
Gili Poh terletak di Sekotong Barat, gili yang masih sangat alami karena jarang dikunjungi oleh wisatawan dan tidak banyak yang tahu tentang gili Poh. Kalaupun Anda ingin travelling ke gili Poh, cobalah bertanya di masyarakat sekitar ataupun bisa charter perahu dari penyebrangan yang ada di desa Tawun, Sekotong Barat. hoping island atau singgah di beberapa gili menjadi pilihan yang tepat kalau ingin mengelilingi beberapa gili di Sekotong, termasuk ke gili Poh. Soal biaya bisa dibicarakan dengan nelayan/pemilik perahu.
Kalau ingin ke gili Poh ataupun hoping island ke beberapa gili, Anda bisa menghubungi nelayan yang saya pernah charter boat/perahunya, diantarnya Pak Misbah (082340900538) yang ada di Tawun atau pak Umar (085205044624) yang di gili Asahan. Anda bisa meminta mereka untuk mengantar ke beberapa gili di daerah Sekotong. waktu itu saya dan teman-teman berangkat dari gili Asahan, karena kami bermalam di gili Asahan. 
Suasana di gili Poh sangat tenang dan sepi, tidak banyak aktifitas yang bisa di lihat selain para nelayan yang sedang bercumbu asyik dengan kail pancinnya. Pasir putih, air yang jernih dan bening membuat saya dan teman-teman tergoda untuk bereneng dan snorkeling, meski terumbu karannya tidak sebanyak seperti di gili Layar namun snorkeling di sana lumayan asyik.  Arus pantai di gili Poh lumayan besar oleh karena itu harus lebih berhati-hati.  
Yang unik dari gili Poh adalah mercusuar. Mercusuar  yang bersinar pada malam hari, digunakan sebagai navigasi untuk membantu para pelaut  membawa kapalnya.  Selian itu Anda bisa menikmati hamparan padang savana hijau dan beberapa beruga tersedia di gili Poh, tempat istirahat sembari menikmati hembusan angin. Tidak ada hotel ataupun penginapan di gili Poh.

Jangan lupa bawa minum atapun snack untuk menjanggal perut jika ingin lebih lama menikmati suasana gili Poh karena di sana tidak ada yang jualan. Dan jangan lupa bawa sampah, pulang. jangan kotori lingkungan. 

Selasa, 27 September 2016

Ketika Budpar merangkul, Lintas Komunitas membaur

photo by friend
Terpilihnya Lombok sebagai destinasi wisata halal  membuat Lombok semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan. Selain itu, karena Lombok juga mempunyai tempat wisata yang indah dan eksotis, salah satunya adalah Gili Sudak, Sekotong, Lombok Barat.

pemandangan dari gili Sudak
Gili Sudak mungkin jarang terdengar oleh para wisatawan, namun tak kalah mempesona dengan gili-gili yang lain. Di tambah lagi, gili Sudak sangat indah dan tidak terlalu ramai. Anda juga bisa mengunjungi gili Tangkong dan gili Kedis yang tak jauh dari gili Sudak. Pulau yang tenang ditambah dengan pemandangan bukit serta birunya laut membuat betah berlama-lama di gili Sudak. Sekitar 1 jam perjalanan dari kota Mataram. Setelah carter boat/perahu penduduk, hanya sekiar 10-15 menit untuk sampai ke gili ini dari tempat penyebrangan di dusun Medang.
peserta sosial media camp
Pada hari sabtu-minggu yang lalu, saya dan teman-teman dari berbagai komunitas mengikuti kegiatan Social Media Camp yang diadakan oleh Budpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) NTB, kerjasama dengan para blogger dan lintas komunitas baik dari Lombok ataupun Sumbawa. Kegiatan ini bertujuan untuk merangkul para lintas komunitas mempromosikan pariwisata Lombok Sumbawa.

camping di gili Sudak
Sore harinya kami mulai menggelar tenda, sembari saling mengakrabkan diri dengan komunitas yang ikut serta kegiatan Social Media Camp dan juga menikmati panorama gili Sudak. Kegiatan tidak hanya camping, namun juga berdiskusi dengan staf dari Budpar tentang bagaimana mempromosikan pesona Lombok Sumbawa dengan cara yang baik.  
transplantasi terumbu karang
Kegiatan berlanjut pada minggu pagi, setelah sarapan kami mulai dari bersih-bersih sampah di sekitar pantai, ada juga lomba yel-yel dan outbound. Kegiatan Social Media Camp semakin seru, ketika kami ikut kegiatan transplantasi terumbu karang. Temen-teman dari komunitas dengan antusias menyelam dan menaruh terumbu karang di kawasan pantai gili Sudak. Semoga dengan adanya kegiatan ini, semakin menyadarkan kita untuk tetep menjaga lingkungan dan daerah wisata kita. Kegiatan pun ditutup dengan foto bareng dan makan siang bersama.  Nemu sampah, pungutlah!!!

para komunitas sedang pungut sampah
                                   

Selasa, 20 September 2016

Karena pungut sampah itu gak susah

Pada sabtu pagi saya, beberapa teman  relawan Kelas Inspirasi dan mbak Aisah dari bank sampah berangkat ke Gili Maringkik yang berada di Tanjung Luar, Lombok Timur. Gili Maringkik merupakan pulau dengan jumlah penduduk sekitar 600kk dan lumayan padat. Jarak dari mataram ke pulau Maringkik sekitar 2 jam.
Hari sabtu dan minggu saya dan teman-teman relawan ada kegiatan yang merupakan kegiatan follow up dari Kelas Inspirasi Lombok yang sudah berlangsung 28 maret 2016 yang lalu. Kegiatan ini lebih berupa pengabdian ke masyarakat tentang permasalahan yang terjadi di pulau/gili. Tujuan kami ke Gili Maringkik yaitu mengadakan kegiatan bersih pantai dan penyuluhan tentang pemanfaatan sampah, karena kebanyakan masalah yang kami lihat di pulau ini adalah banyaknya sampah. kami pun turut serta mengundang mbak Aisah sebagai narasumber sekaligus pelatih pada kegiatan ini. Mbak Aisyah tidak hanya melatih tetapi juga mengedukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dari sampah. 
Aisyah Odist yang arab disapa mbak Aisyah ini merupakan aktifis dan pegiat lingkungan. Mbak Aisyah dengan bank sampahnya sudah banyak melakukan kegiatan baik berupa penyuluhan sampah, penghijauan dan penanaman bakau di daerah pesisir maupun pelatihan tentang pemanfaatan sampah ke Masyarkat di NTB khusunya. Saya sangat senang ketika bisa mengunjungi bank sampah yang didirikan oleh mbak Aisyah dan bisa melihat hasil karya-karya daur ulang sampah yang sudah disulap menjadi tas, kotak pensil dan hiasan-hiasan dari sampah plastik.
Kegiatan pertama kami berkunjung ke SDN 2 Tanjung Luar sekalian silaturrahmi dengan guru-guru serta bertemu dengan adik-adik di sekolah di mana Kelas Inspirasi Lombok berlangsung. Kami sangat senang bertemu dengan mereka. Selanjutnya sore hari kamipun berkeliling melihat dan observasi kondisi pulau dan mengobrol dengan masyarakat sekitar.
Menjelang magrib kami mendirikan tenda karena akan bermalam di sana. Pada malam hari kami berdiskusi tentang kegiatan untuk hari minggu. Ditemani langit penuh bintang, kopi hangat, alunan musik gitar dan suara gemuruh ombak membuat camping di pulau Maringkik sangat mengasikkan.
Setelah sarapan pagi kami bergegas ke sekolah dan berkumpul dengan adik-adik. Kak Wulan yang memandu acara mulai menyemangati adik-adik dengan yel-yel semangat. Setelah itu kegiatan bersih-bersih pantai berlangsung, kami dan adik-adik sangat semangat ikut kegiatan ini. Tak lupa mbak Aisyah juga mengedukasi adik-adik tentang jenis-jenis sampah, sehingga mereka punya pengetahuan tentang sampah. Setelah memungut sampah, kami mengajak adik-adik untuk bermain di tepi pantai.
Usai kegiatan bersih pantai, jam 9 mbak Aisyah mulai memberikan pengarahan kepada warga yang hadir tentang pemanfaatan sampah. Selanjutnya mbak Aisyah melatih bagaimana membuat sampah menjadi barang-barang yang bemanfat seperti membuat tas, kotak pensil ataupun piring dari minuman gelas plastik, yang semuanya itu sangat bermanfaat dan mempunyai nilai jual dan guna. Para warga sangat antusias untuk belajar dan mengikuti arahan dari mbak Aisyah. Selesai acara jam 11.30 kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Mataram. 
kalau nemu sampah, pungutlah!

Senin, 25 Juli 2016

Lebaran Adat di dusun Semokan Desa Sukadana, Lombok Utara


Warga Semokan siap-siap untuk berlebaran adat
Ini pengalaman pertama saya melihat dan ikut merasakan suasana perayaan “Lebaran Adat” di dusun Semokan, desa Sukadana, Lombok Utara. Dua hari setelah lebaran idul fitri, teman saya mengajak saya untuk berkunjung serta bersilaturrahmi dengan masyarakat di desa Sukadana. Sekitar jam 9 pagi kami sudah berangkat. Perjalanan dari rumah saya (Pringgasela) ke desa Sukadana sekitar 3,5 jam. Sampai di sana kami disambut hangat oleh keluarga pak Mus, salah satu guru yang mengajar di SD Semokan Roak, dusun adat di desa Sukadana, KLU.


Keranjang fitrah
Pada hari sabtu, saya dan teman-teman mengunjungi dusun Sembagek, Desa Sukadana. Dusun ini tidak jauh dari dusun Semokan. Seperti biasa, sehari sebelum lebaran para ibu dibantu anak gadisnya sibuk memasak hidangan khas lebaran dan membuat jajan tradisional seperti jaja tujak, banget dan peset. Sementara penduduk laki-lakinya membuat anyaman keranjang fitrah(zakat) untuk digunakan menaruh berbagai macam makanan yang akan dibawa ke masjid adat. 


Rumah adat Sembagek
Di dusun Sembagek kita akan melihat rumah adat yang masih terjaga. Rumah adat yang khas, yang hanya terdiri dari 2 ruang; dapur dan kamar tidur. Meski terbuat dari alang-alang, namun rumah adat ini sangat kuat dan tidak bocor ketika hujan. Setiap 5 tahun sekali atap nya akan di ganti, kata salah satu warga. Saya kagum dengan masyarakat di sana, mereka tetap menjaga warisan nenek moyang dan menjalankan turun temurun budaya lebaran adat.  

Dila Jojor
Selain itu, yang unik adalah masyarakat disana membuat dila jojor (lampu tradisional) yang digunakan sebagai penerang karena dalam perayaan lebaran adat tidak diperkenankan menyalakan lampu listrik. Dila jojor ini  terbuat dari kemiri, kapas, dan buah jarak. Ketiga bahan tersebut dicampur dan ditumbuk. Setelah lembut mereka melilitkan pada kayu dan siap untuk dinyalakan.

Sorenya kami bertamu menuju dusun Semokan, sama dengan di Sembagek disana juga masyarakatnya sibuk membuat kudapan dan menyiapkan makanan untuk lebaran adat. Para warganya juga sangat baik dan ramah melihat orang baru datang seperti kami. Kami mengobrol dan mengakrabkan diri dengan masyarakat di sana, bertanya tentang lebaran adat, hal yang boleh dan tidak boleh dipakai dan dilakukan pada saat lebaran adat sehingga kami mendapat banyak pengetahuan tentang lebaran adat.

Kemben (pr) dan Sapuq & sarung (lk)

Adik-adik di Semokan 
Lebaran selalu identik dengan baju baru namun lebaran adat di Semokan ataupun Sembagek tidak akan dijumpai baju baru, masyarkat di sana merayakan lebaran adat dengan menggunakan kemben bagi yang perempuan, bagi yang laki-laki akan memakai sapuq dan kain. Kemben merupakan kain yang digunakan sebagai penutup badan wanita baik itu kain motif ataupun kain tenun yang belum disambung (dijahit). Menurut kepercayaan masyarakat di sana, khusus untuk wanita kalau ingin masuk rumah pemangku atau kiai harus melepas baju dalam (CD dan BH), hanya boleh menggunakan kain (kemben) sebagai penutup. Demikian dengan laki-laki menggunakan sarung dan sapu’ yang di taruh diatas kepala.
Ketika senja tiba, para warga khusunya yang laki-laki mulai membawa keranjang fitrah yang berisi berbagai macam makanan  ke masjid. Pada malam harinya kegiatan pembagian fitrah berlangsung di dalam masjid adat. Hanya laki-laki saja yang diperbolehkan masuk ke masjid adat.

Para peimpin adat dan warga di kuburan Semokan
Minggu pagi kami bergegas untuk menyaksikan lagi tradisi lebaran adat di Semokan. Setelah selesai sholat idul fitri dan berkhutbah,  para kiai adat dan masyarakat yang lain menuju kuburan untuk berziarah. Mereka mendoakan sanak keluarga yang sudah meninggal yang dipimpin oleh kiai adat. Yang unik, Masyarakat disana membawa makanan yang ditaruh di atas kuburan untuk didoakan oleh pemimpin atau kiai adat. Setelah selesai berdoa, ritual selanjutnya sembeq. Sembeq yaitu ritual yang dilakukan oleh pemimpin adat dengan cara mengusap kening/kepala warga dengan menggunakan ampas bekas kunyahan campuran sirih, buah pinang(bua’), apur(kapur) dan gambir. Menurut warga tujuan sembeq itu bisa dijadikan sebagai obat.
proses Sembeq

Masjid adat Semokan
Sebenarnya masih ada acara penutupan, berupa makan hidangan khas lebaran adat di sana, akan tetapi  kami tidak mengikuti acara sampai selesai. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan pulang. Saya sangat terkesan dan senang melihat masyarakat khususnya di  dusun Semokan dan Sembagek tetap menjaga dan mempertahankan tradisi adat dari nenek moyang mereka. 

Jumat, 17 Juni 2016

Menikmati Milky Way dari atas bukit kece “Bukit Anak Dara”

taken by Surya Fira Y
         Bukit Anak Dara memang belum setenar bukit-bukit yang ada di Sembalun seperti Bukit Pergasingan, Bukit Nanggi, dan bukit lainnya. Bukit Anak Dara terletak di Sembalun Lawang, Lombok Timur. Bukit ini satu arah dengan bukit Selong. Tinggi Bukit Anak Dara sekitar 1961 mdpl. Membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam untuk mendaki sampai puncak. Yang paling penting harus menggunakan jasa guide atau mengajak teman yang pernah ke sana karena Bukit Anak Dara tergolong bukit yang masih sepi, masih jarang dikunjungi.
Pemandangan hamparan sawah dari puncak
Sebelum mendaki terlebih dahulu melakukan registrasi  atau tanya penduduk setempat dimana harus registrasi, namun pengalaman saya waktu ke sana tidak perlu register karena berhubung saat itu semua panitia (penjaga) kemungkinan menghadiri  Nanggi Lampion Festival. Pastikan kendaraan Anda juga parkir di tempat yang aman atau meminta izin masyarakat setempat karena belum ada tempat parkir di sekitar jalan menuju bukit ini kecuali di bukit Selong.
ketika turun dari puncak bukit
Sepanjang perjalanan menuju Bukit Anak Dara kita akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang sangat mempesona. Karakter rute Bukit Anak Dara berbeda-beda. Menuju post 1 Anda akan  memasuki hutan dengan pohon-pohon yang rindang. Setelah itu dari pos 1 menuju pos 2 Anda harus lebih berhati-hati karena track agak sulit dan berupa jalan setapak kecil, lumayan tajam dan menanjak. Agar tidak tersesat, Anda akan melihat “bendera kecil” sebagai penanda agar para pendaki terbantu menemukan rute yang benar.  Dari pos 2 menuju puncak Anda melewati padang rumput hijau menguning indah ditambah dengan pesona bunga edelwess. 
photo by Ziadah 
Yang khas dari bukit ini adalah Anda bisa melihat pemandangan yang  membuat takjub dari berbagai penjuru. Tampak terlihat keelokan gunung Rinjani, hamparan sawah penduduk yang begitu rapi nan hijau serta deretan bukit-bukit Sembalun yang menjulam tinggi dan cantik. Selain itu, yang special dari bukit ini dan tidak dimiliki oleh bukit lain adalah Anda bisa menikmati hangatnya sunrise dan indahnya lautan biru, sambil memandangi gili Lawang dan gili Sulat. 
photo by Surya Fira Y
Saat ke bukit Anak Dara saya dan beberapa teman saya mendirikan tenda di puncak. Yang paling menarik dan membuat saya tercengang ketika bisa menyaksikan dan menikmati gugusan bintang berkabut dihiasi cahaya putih “milky way” sangat indah dan menakjubkan. Dengan ditemani hangatnya secangkir coffee dalam malam yang pekat dan tenang, memandang langit dengan hamparan Milky Way begitu memukau.
tampak puncak Bukit Anak Dara
Ketika mendaki bawalah perlengkapan yang cukup karena disana suasananya sangat dingin. Satu hal yang wajib dilakukan bawalah sampah Anda pulang. Bersahabatlah dengan alam, alampun akan ramah kepada Anda. Jangan lupa TUKANG JALAN-JALAN akan tetap menjaga kebersihan LINGKUNGAN. 


Jumat, 19 Februari 2016

Getting lost in Pantai Sungkun



I felt so amazed when my friends and I came to this beach. For the first time on 16th August 2015, I stepped on my feet in Sungkun Beach.  Instead of going to a deserted beach, mostly people prefer to go to crowded beach. Not many people visit pantai Sungkun, but now it has becomes one of the famous beaches in Lombok. It is located in desa Ekas Buana kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. It is about 2 hours from Mataram. This beach is also known as Turtle beach, because you can see giant Turtle island in the middle of the beach. This is kind of hidden beach and so cozy.

If you start from Mataram, the route is Mataram-Kediri-Praya-Sepapan-Jerowaru-Pemongkong-Ekas Buana. Since no public transportation is available there, it’s better to use a private motorbike or car. It’s quite tough to find this beach because Sungkun beach is located in remote area and it’s better if you can ask local people about the route. The road is very dusty, so you must be more careful.
If you feel a longing for pleasant beach, you completely right if you list Sungkun beach as your destination. The water of the beach is so pure. You can see the horizon is so long. This beach is so quiet. Your eyes will be spoiled by white sand and the giant Turtle Island making it more interesting. Besides that, you can climb up the hill (soft treeking) and see amazing views from the hill, but this beach is not suitable for swimming because the wave was so strong at the time. You can enjoy sightseeing, taking picture and of course taking selfies.
For information, if you want to explore more, close to Sungkun beach you can head to pantai Kaliantan and pantai Dagong. They are not that far from pantai Sungkun. You just need to follow the route and ask local people if you need.

Make sure you bring enough water and food because no warungs/ small shop are there. You can park your motorbike close to the beach and there are some local parking men to look after your motorbike. Don’t forget when travelling, Keep cautious and keep cleaning. Be nice to universe and universe will be nice to you. Enjoy and live while you are young.