Laman

Senin, 25 Juli 2016

Lebaran Adat di dusun Semokan Desa Sukadana, Lombok Utara


Warga Semokan siap-siap untuk berlebaran adat
Ini pengalaman pertama saya melihat dan ikut merasakan suasana perayaan “Lebaran Adat” di dusun Semokan, desa Sukadana, Lombok Utara. Dua hari setelah lebaran idul fitri, teman saya mengajak saya untuk berkunjung serta bersilaturrahmi dengan masyarakat di desa Sukadana. Sekitar jam 9 pagi kami sudah berangkat. Perjalanan dari rumah saya (Pringgasela) ke desa Sukadana sekitar 3,5 jam. Sampai di sana kami disambut hangat oleh keluarga pak Mus, salah satu guru yang mengajar di SD Semokan Roak, dusun adat di desa Sukadana, KLU.


Keranjang fitrah
Pada hari sabtu, saya dan teman-teman mengunjungi dusun Sembagek, Desa Sukadana. Dusun ini tidak jauh dari dusun Semokan. Seperti biasa, sehari sebelum lebaran para ibu dibantu anak gadisnya sibuk memasak hidangan khas lebaran dan membuat jajan tradisional seperti jaja tujak, banget dan peset. Sementara penduduk laki-lakinya membuat anyaman keranjang fitrah(zakat) untuk digunakan menaruh berbagai macam makanan yang akan dibawa ke masjid adat. 


Rumah adat Sembagek
Di dusun Sembagek kita akan melihat rumah adat yang masih terjaga. Rumah adat yang khas, yang hanya terdiri dari 2 ruang; dapur dan kamar tidur. Meski terbuat dari alang-alang, namun rumah adat ini sangat kuat dan tidak bocor ketika hujan. Setiap 5 tahun sekali atap nya akan di ganti, kata salah satu warga. Saya kagum dengan masyarakat di sana, mereka tetap menjaga warisan nenek moyang dan menjalankan turun temurun budaya lebaran adat.  

Dila Jojor
Selain itu, yang unik adalah masyarakat disana membuat dila jojor (lampu tradisional) yang digunakan sebagai penerang karena dalam perayaan lebaran adat tidak diperkenankan menyalakan lampu listrik. Dila jojor ini  terbuat dari kemiri, kapas, dan buah jarak. Ketiga bahan tersebut dicampur dan ditumbuk. Setelah lembut mereka melilitkan pada kayu dan siap untuk dinyalakan.

Sorenya kami bertamu menuju dusun Semokan, sama dengan di Sembagek disana juga masyarakatnya sibuk membuat kudapan dan menyiapkan makanan untuk lebaran adat. Para warganya juga sangat baik dan ramah melihat orang baru datang seperti kami. Kami mengobrol dan mengakrabkan diri dengan masyarakat di sana, bertanya tentang lebaran adat, hal yang boleh dan tidak boleh dipakai dan dilakukan pada saat lebaran adat sehingga kami mendapat banyak pengetahuan tentang lebaran adat.

Kemben (pr) dan Sapuq & sarung (lk)

Adik-adik di Semokan 
Lebaran selalu identik dengan baju baru namun lebaran adat di Semokan ataupun Sembagek tidak akan dijumpai baju baru, masyarkat di sana merayakan lebaran adat dengan menggunakan kemben bagi yang perempuan, bagi yang laki-laki akan memakai sapuq dan kain. Kemben merupakan kain yang digunakan sebagai penutup badan wanita baik itu kain motif ataupun kain tenun yang belum disambung (dijahit). Menurut kepercayaan masyarakat di sana, khusus untuk wanita kalau ingin masuk rumah pemangku atau kiai harus melepas baju dalam (CD dan BH), hanya boleh menggunakan kain (kemben) sebagai penutup. Demikian dengan laki-laki menggunakan sarung dan sapu’ yang di taruh diatas kepala.
Ketika senja tiba, para warga khusunya yang laki-laki mulai membawa keranjang fitrah yang berisi berbagai macam makanan  ke masjid. Pada malam harinya kegiatan pembagian fitrah berlangsung di dalam masjid adat. Hanya laki-laki saja yang diperbolehkan masuk ke masjid adat.

Para peimpin adat dan warga di kuburan Semokan
Minggu pagi kami bergegas untuk menyaksikan lagi tradisi lebaran adat di Semokan. Setelah selesai sholat idul fitri dan berkhutbah,  para kiai adat dan masyarakat yang lain menuju kuburan untuk berziarah. Mereka mendoakan sanak keluarga yang sudah meninggal yang dipimpin oleh kiai adat. Yang unik, Masyarakat disana membawa makanan yang ditaruh di atas kuburan untuk didoakan oleh pemimpin atau kiai adat. Setelah selesai berdoa, ritual selanjutnya sembeq. Sembeq yaitu ritual yang dilakukan oleh pemimpin adat dengan cara mengusap kening/kepala warga dengan menggunakan ampas bekas kunyahan campuran sirih, buah pinang(bua’), apur(kapur) dan gambir. Menurut warga tujuan sembeq itu bisa dijadikan sebagai obat.
proses Sembeq

Masjid adat Semokan
Sebenarnya masih ada acara penutupan, berupa makan hidangan khas lebaran adat di sana, akan tetapi  kami tidak mengikuti acara sampai selesai. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan pulang. Saya sangat terkesan dan senang melihat masyarakat khususnya di  dusun Semokan dan Sembagek tetap menjaga dan mempertahankan tradisi adat dari nenek moyang mereka. 

2 komentar: