Laman

Kamis, 31 Mei 2018

Ngejot, Tradisi Bertandang dengan Dulang dari Desa Lenek

Diakhir bulan Ramadhan, biasanya saya menghabiskan waktu berbuka bersama keluarga. Tapi puasa kali ini agak berbeda, karena sehari sebelum leberan tepatnya di sore hari, saya dan dua orang teman saya pergi untuk melihat sebuah tradisi unik yaitu “ngejot” yang ada di Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur. Lenek sendiri dikenal sebagai desa budaya karena selalu mengapresiasi berbagai tradisi dan tak pernah absen membuat pagelaran seni budaya, dan salah satunya yakni Festival Ngejot. Ini kali pertama saya melihat Festival Ngejot.
Para ibu-ibu berkumpul di lapangan
Ngejot di Desa Lenek ini mempunyai arti bertandang atau berkunjung. Tradisi yang sudah turun temurun dilakukan dan merupakan warisan budaya dari nenek moyang di Desa Lenek sejak dulu kala. Tradisi ngejot dilaksanakan sehari sebelum hari raya idul fitri setiap tahunnya. Jadi ngejot ini hanya bisa kita saksikan menjelang awal bulan Syawal. Ngejot adalah bentuk bakti anak kepada orang tuanya atau adik kepada kakaknya atau biasanya kepada orang yang dituakan. Selain itu acara ini bertujuan sebagai ajang untuk tetap memperkuat silaturrahmi antar keluarga serta mengajarkan untuk saling berbagi.

Ngejot biasanya dilakukan oleh para perempuan yang terdiri dari  ibu-ibu dan para gadis. Sebelum acara ngejot dimulai,  para ibu dan anak gadis lainnya ramai-ramai berkumpul di tengah lapangan desa setempat. Perayaan ngejot ini biasanya diadakan di lapangan Wirangbaya, Desa Lenek Pesiraman, Lombok Timur. Mereka berkumpul di tengah lapangan, duduk berjejeran sambil membawa hantaran yang disebut dulang (nampan sajian) yang berisi bulayak (ketupat), lauk-pauk seperti opor ayam, opor telur, kacang-kacangan, sate kelapa, jajan-jajanan lebaran serta kudapan khas lebaran lainnya yang ditutupi dengan tembolaq khas suku sasak.
Dulang


Tradisi ngejot ini dimulai sore hari sampai menjelang magrib (berbuka puasa). Adapun serangkain proses ngejot ini ditandai dengan penyerahan dulang (nampan saji) yang dilakukan oleh pemuda setempat kepada orang tua desa (seperti tetua adat) yang digelar di tengah lapangan, hal ini sebagai simbol dan penghormatan kalau acara ngejot akan segera dimulai. Acaranya pun dibuka dengan kata sambutan, pemberian gula pasir kepada warga (ibu-ibu di lapangan) dan doa. Setelah selesai, para ibu-ibu akan berjalan beriringan semacam pawai dari lapangan menuju rumah orang tua dan kerabat terdekat mereka masing-masing untuk menghantarkan dulang. Terlihat para warga ikut serta berpartisipasi mengikuti tradisi ngejot ini dan saya pun sangat antusias menyaksikan sembari mencekrek beberapa photo tradisi ngejot tersebut.



Ngejot salah satu warna budaya suku sasak dan merupakan kekayaan tradisi budaya yang harus tetap dijaga karena dengan ngejot ini mengajarkan kita untuk tetap bersyukur dan saling menjaga kerukunan antar sesama.




Minggu, 07 Januari 2018

NGEBOLANG SAMBIL NGOPI SERU DI 2 AIR TERJUN SENARU

Tak dipungkiri lagi Lombok punya pesona alam yang luar biasa menawan. Tak heran jika banyak para wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang singgah dan ingin menikmati panaroma hasil maha karya sang Pencipta. Dari tahun ke tahun jumlah para pelancong di pulau yang bertetangga dengan Bali ini semakin menanjak saja. Lombok yang lebih dikenal dengan “Pulau Seribu Masjid” menyimpan panorama alam yang indah nan menggoda mulai dari gunung Rinjani, bukit-bukit, gili-gili dan pantainya yang membiru, alam lautnya yang bahari serta air terjunnya yang  begitu eksotis untuk dijelajahi. Namun dalam postingan kali ini saya akan mengisahkan experience ngebolang saya pada dua air terjun yang terletak di satu kawasan yaitu Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep yang sudah sangat tersohor dan menambahkannya dengan mengunjungi Kebun Kopi seru di Senaru, Lombok Utara.

Merasakan Sensasi Terpaan Air Terjun Sendang Gile
Air terjun ini sangat popular di kalangan wisatawan. Air terjun ini berlokasi di desa Senaru, Kecamatan Bayan Lombok Utara. Akses menuju ke sana tidaklah sulit, bisa dilalui kendaraan baik motor, mobil atau bus. Cukup dengan memarkir kendaraan pada area parkir dan membayar tiket masuk di loket yaitu Rp. 5000 untuk wisatawan lokal dan Rp. 10.000 untuk wisatawan asing, and then kita sudah bisa memasuki Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep. Untuk info kita juga bisa meng-hire para guide lokal menuju ke dua air terjun tersebut, harga bisa dinego, namun jika tidak butuh, juga tidak apa-apa. 

Di akhir pekan banyak sekali wisatawan baik tua maupun muda datang ingin merasakan sensasi mandi di bawah terpaan air terjun Sendang Gile. Apalagi kalau musim libur, lumayan ramai. Meski ini sudah kali ketiga saya ke sini, tapi saya tidak pernah bosan melangkahkan kaki saya di destinasi ini. Dan Kali ini saya ngebolang bersama teman saya dari Jerman. Pertama saya mengajaknya ke Air Terjun Sendang Gile.

Air terjun ini tak pernah sepi pengunjung. Menuju Sendang Gile kita akan menapaki jalan turunan dengan ratusan anak tangga. Di sepanjang rute anak tangga, kita akan menikmati kicauan burung-burung dan tentunya dihiburkan oleh beberapa monyet yang lalu-lalang menjadi penunggu hutan. Well turun nya seh enak, nah pas baliknya bisa bikin ngos-ngosan. Tak apalah hitung-hitung ngurangin berat badan “pikir ku”..hehe
Air terjun ini menyuguhkan view pepohonan hijau nan indah dengan ketinggian air sekitar 30 meter, dikelilingi hutan yang sejuk dipandang mata, hawanya yang berkabut semakin menambah keeksotisan air terjun ini plus airnya bikin menggigil saking dinginnya. Then kami melihat beberapa wisatawan basah-basahan menikmati sensasi air yang tercurah dari atas tebing hutan. Tentunya kami pun tak lupa mengcapture pemandangan alam di sekitar air terjun Sendang Gile. Sekitar 20 menit berlalu, kami pun melanjutkan jalan-jalan kami menuju air terjun Tiu Kelep.

Pesona Air Terjun Tiu Kelep Yang Memikat
Selanjutnya saya dan teman saya menancapkan kaki di air terjun Tiu Kelep. Air terjun ini masih satu kawasan dengan air terjun Sendang Gile, namun lebih tinggi dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit. Lumayankan untuk soft trekking. Eiiits Jangan kawatir, menuju tempat ini juga sudah ada rutenya kok meski cukup melelahkan tapi akan terbayar jika sudah berada di air tejun Tiu Kelep.  Kami mulai melewati jalan setapak, menjejal hutan disepanjang jalan, jembatan beton dan sungai kecil yang bebatuan. FYI harus extra hati-hati, watch your step karena kondisi jalan yang mulai licin apalagi jika musim hujan dan aliran air sungainya deras.

Tiu Kelep ini adalah objek wisata yang tak kalah Tenar juga dari Sendang Gile. Saya selalu terhipnotis oleh pemandangan hutannya dan nuasa kabut yang membuat badan merasa semakin kedinginan namun tetep nyaman. Teman saya sepanjang jalan tak henti-hentinya berucap wooow it’amazing, even I’m tired but it’s worth visiting. I’ll promise back to Lombok, akunya. Dia sangat terpikat oleh pesona air terjun Tiu Kelep ini. Sampai disana kami hanya menikmati semburan dan percikan buih-buih air terjun dengan ketinggian sekitar 50 meter ini. Karena terlalu dingin dan deras kami memutuskan untuk tidak mandi tapi tetep saja kami basah kuyup. Meski banyak wisatawan yang berendam di pinggiran air terjun, tapi kami hanya memanjakan mata dengan mengitari sekitar air terjun, dan mencari spot bagus buat foto-fotoan. Info penting, jadi kalau mau mandi jangan mendekati terpaan air terjun Tiu Kelep karena sangat deras dan keras.
Belum puas rasanya jika belum mengabadikan moment di air terjun yang menurut bahasa sasak Kelep artinya terbang. So that’s true, jika ke sini kita akan merasa seperti terbang melayang-layang karena terpana  oleh kemolekan air terjun Tiu Kelep.  Tips: jangan lupa pakai sandal trekking kalau mau travelling ke air terjun ya.

Capek sudah wara-wiri pada 2 air terjun yang super kece ini, kami memutuskan untuk kembali ke parkiran dan sejenak istirahat. Karena perut mulai keroncongan kami pun segera menyantap makan siang di warung terdekat. So jangan panik ya, piknik ke tempat ini makin asyik karena di sekitar kawasan desa Senaru banyak terdapat rumah makan dengan harga yang affordable banget. Selain itu juga terdapat beberapa tempat penginapan mulai dari homestay, resort dan hotel. Bagi yang ingin trekking di sekitaran Senaru sudah tersedia tour and travel pemandu trekking ke Rinjani. Lengkap kan???

Terbius hangatnya secangkir kopi di Kebun Kopi Seru, Senaru.

Kebun Kopi ini mulai buming awal tahun 2016. Letaknya yang tak jauh, sekitar 10 menit menggunakan kendaraan dari parkiran kedua air terjun tadi. Kebun kopi Senaru ini juga dikenal dengan nama Tebing Kelep merupakan kawasan yang dikelola oleh pemerintah setempat. Tebing Kelep menjadi tempat wisata yang semakin beken di kawasan Senaru. Sebelum menuju destinasi, disana juga terdapat desa adat Senaru dengan rumah-rumah adat dari alang-alang yang masih alami dan dijaga. Dan jika kalian ingin masuk, cukup dengan seiklasnya donate some money sudah bisa melihat rumah khas sasak Lombok.

Setelah memarkir kendaraan, saya dan teman saya melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan sekitar 15 menit menuju lokasi. Kalau kalian agak males jalan, di sana juga menyediakan jasa antar jemput ojek, cukup dengan merogah isi kantong Rp.15.000. Meskipun lumayan lelah tapi tak membakar semangat kami menggerakkan kaki menuju wisata kebun kopi. Perlu diketahui, kalau menggunkan mobil harus parkir di deket desa adat Senaru, tapi jika menggunakan motor kalian langsung bisa menuju wisata Kebun Kelep. Nah inget, tetep hati-hati karena jalannya terdapat tanjakan.

Tak terelakkan lagi setiap traveler yang ke sini pasti terbius oleh view yang disuguhkan, sangat menarik dan bikin takjub. Sampai-sampa temen saya bilang It amazes me, poor me I only see thousand tower in my country. So fascinating. Meski cuaca cerah, Hawa dingin dan udara yang seger tetep menyelimuti. Saya pun mengajaknya untuk meneguk kenikmatan kopi khas Senaru yang sudah disediakan oleh salah satu pengelola di Kebun Tebing. Kami pun berbincang-bincang sambil menyantap wafer yang kami bawa dan secangkir kopi hangat. Setelah bercengkrama tak ketinggalan kami mengambil gambar di spot yang ngehits ini. Dari pihak pengelola juga sudah menyediakan spot foto yang instagramable buat para pengunjung. Dari atas tebing ini kita bisa memandang luas dan puas air terjun Tiu Kelep dan hutan belantara hijau yang begitu membuat terpana. Ya Tuhan, nikmat yang mana lagi yang kau dustakan. Sangat damai dan tenang berada di kawasan yang berdekatan dengan gunung Rinjani tersebut. Temen saya sangat terkagum-kagum dan selalu bilang you are so lucky lah.

Pokoknya paket komplit lah jika ingin melancong ke desa Senaru, sudah ada dua air terjun yang menjadi magnet ditambah pula daya pikat Tebing Kelep yang menghipnotis para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Hari sudah mulai senja, selanjutnya kami pun bersiap untuk kembali ke rumah, meski badan masih merasa betah untuk berlama-lama di sana.    

Setiap ngebolang jangan mengotori lingkungan dan bawa sampah kalian pulang, biar alam pun ikut senang. Selamat ngebolang. 

Rabu, 03 Januari 2018

D’MAX HOTEL AND CONVENTION, TEMPAT STAYCATION YANG NYAMAN UNTUK MELEPAS KEPENATAN

Skylounge, D'Max Hotel
Menjelang pergantian tahun 2017, saya berencana menghabiskan malam tahun baru di hotel yang letaknya tak jauh dari Bandara International Lombok (LIA). Kali ini saya berkesempatan staycation di D’Max Hotel and Convention. Meski saya sering lalu lalang melewati D’Max, ini merupakan kali pertama saya bertandang dan bermalam di D’Max Hotel and Convention. Biasanya awal tahun saya hanya diam di rumah bersama keluarga atau camping di bukit bersama kawan-kawan. Namun kali ini saya ingin try something new dengan merasakan stay di hotel dan saya pun tidak sendiri, karena ditemani oleh pak suami. 

Berlokasi di Jl. Raya Bypass BIL Km 2 Praya, Lombok Tengah dan merupakan hotel teranyar karena berjarak 3 menit saja dari bandara menjadi point menarik buat D’Max. Selain itu, untuk menuju kawasan wisata seperti desa adat Sade, desa adat Ende, pantai Kuta, pantai Seger, Selong Belanak dan pantai eksotis lainnya bisa ditempuh sekitar 25 menit dari D’max. Wooow sangat deket dan strategis bukan?

Behind the scene mengapa saya menghabiskan pergantian malam tahun baru di D’Max, karena suami saya diundang untuk meliput kegiatan malam tahun baru di sana. Naaah, sekalian saja saya mau me-review “how’s the hotel?” Siapa tahu bisa bermanfaat buat para wisatawan yang sedang dan ingin liburan di Lombok dan mencari hotel yang tak jauh dari kawasan bandara dan destinasi wisata seru lainnya di bumi sasak. 

Kami tiba sekitar jam 02.30 siang lalu check in dan segera menuju kamar. Hotel bintang 4 ini mempunyai 137 kamar. Tipe kamar di D’Max sangat bervariasi, mulai dari suite room, executive room, deluxe room dan superior room. Deluxe room menjadi pilihan yang tepat untuk due sejoli seperti kami ini. Tipe kamar dengan one single bed ini sangat nyaman, lengkap dengan wifi gratis, TV dengan channel yang beragam, tea and coffee making facility,  laundry service, slipper, toiletnya dengan shower, bathroom amenities yang complete dah pokoknya. Yang tak kalah pentingnya buat saya penunjuk kiblat. So buat kita yang muslim kagak bingung nyari arah kiblatnya. Sampai di kamar saya langsung membuka gorden pintu kamar dan tak di sangka kamar kami langsung menghadap pemandangan hijau skylounge, spot instagramable buat fotoan dan juga kamar kami berdekatan sama pool-nya. Saya pun langsung kegirangan untuk segera berenang. 

Sore harinya kami meregangkan otot kaki dengan berjalan sejenak menyambangi suasana hotel sembari mengambil beberapa photo hotel D’Max. Lelah berkeliling, perut pun mulai keroncongan. Kemudian kami mencari tempat makan di sana. Ternyata D’Max tidak hanya menyediakan restaurant “D’Bistro” dengan aneka menu western nya, jadi buat taste kalian yang kebarat-baratan bisa mencicipi makanan di restaurantnya tetapi ada pula Food court buat kalian yang suka akan menu masakan nusantara. Food Court jadi option yang tepat bagi saya karena lidah saya rasa lokal, Indonesia banget jadi saya dan suami saya memesan nasi goreng bumbu kampung dan nasi puyung, kuliner yang sudah sangat terkenal di Lombok. Nuansa tempat di Food Court nya unik, atap nya terbuat dari alang-alang dan lumayan luas plus tenang.  Kita juga langsung dimanjakan dengan view hamparan sawah hijau yang menyejukkan bagi siapapun yang memandangnya. Nah soal makanan jangan di tanya, buat saya nasi goreng bumbu kampung lumayan enak serta pas porsinya. Kalau nasi puyung, sudah jelas rasa yang khas “pedes” nya nendang banget di lidah.
 


Selepas magrib, kami pun siap-siap untuk mengikuti serangkaian acara pergantian tahun baru di D’Max. Kami kembali lagi ke Food Court untuk dinner, menu makan malam nya lezat semua. Penyelenggara membuat tema “nusantara menu” untuk para pengunjung yang hadir. Menu nya mulai dari berbagai sate seafood, sate Tanjung, daging, ayam, urap, pecel dan masih banyak lagi. Acara live music dari band akustik “Vokustik” dan DJ disuguhkan pada malam pergantian tahun 2017.  Sayangnya tak lama setelah dinner, saya memutuskan untuk kembali ke kamar karena kelelahan, akhirnya saya pun beristirahat dan hanya suami saya yang menyaksikan acara new year 2018 untuk bahan tulisannya.

Cuaca pagi 1 Januari 2018 sangat cerah, kami pun memburu sunrise yang sudah mulai tampak, indah sekali. Kami bisa melihat matahari pagi dari skylounge, spot fotoan yang kece dan sangat ngehits yang dimiliki D’Max. Selepas itu jam 8 saya dan suami saya sarapan di restaurant D’Bistro. Model breakfastnya pun dengan prasmanan. Tersedia menu-menu sarapan seperti western sampai Indonesia; toast, roti, omelet, bubur sum-sum, ketan hitam, nasi goreng, ayam goreng, omelet, tumis sayuran, kentang, perkedel, salad buah, minuman dingin maupun hangat; juice, coffee dan teh.  yang semua tidak sekedar sehat dan mengenyangkan namun juga rasanya mantap. Jadi betah berlama-lama di restaurantnya. hehehe..

Puas banget rasanya staycation di D’Max hotel dan convention. Semua fasilitas complete mulai dari layanan kamar, SPA, Gym, kolam renang, restaurant, food court, D’Mart, ATM, security, taman, meeting room, akses transportasi umum yang gampang(Damri) dicari,  lobby yang nyaman dan  point yang paling penting dan istimewa buat saya karena staf-staf nya friendly. Jadi saya mau merekomendasikan buat para pejalan (traveler) yang datang liburan maupun para pelaku bisnis, D’Max Hotel and Convention sangat cocok sebagai tempat menginap yang nyaman sambil melepas kepenatan.
D'Bistro Restaurant