Diakhir
bulan Ramadhan, biasanya saya menghabiskan waktu berbuka bersama keluarga. Tapi
puasa kali ini agak berbeda, karena sehari sebelum leberan tepatnya di sore
hari, saya dan dua orang teman saya pergi untuk melihat sebuah tradisi unik
yaitu “ngejot” yang ada di Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur. Lenek
sendiri dikenal sebagai desa budaya karena selalu mengapresiasi berbagai
tradisi dan tak pernah absen membuat pagelaran seni budaya, dan salah satunya
yakni Festival Ngejot. Ini kali
pertama saya melihat Festival Ngejot.
| Para ibu-ibu berkumpul di lapangan |
Ngejot
di Desa Lenek ini mempunyai arti bertandang atau berkunjung. Tradisi yang sudah
turun temurun dilakukan dan merupakan warisan budaya dari nenek moyang di Desa Lenek
sejak dulu kala. Tradisi ngejot
dilaksanakan sehari sebelum hari raya idul fitri setiap tahunnya. Jadi ngejot ini hanya bisa kita saksikan
menjelang awal bulan Syawal. Ngejot
adalah bentuk bakti anak kepada orang tuanya atau adik kepada kakaknya atau biasanya
kepada orang yang dituakan. Selain itu acara ini bertujuan sebagai ajang untuk
tetap memperkuat silaturrahmi antar keluarga serta mengajarkan untuk saling
berbagi.
Ngejot biasanya
dilakukan oleh para perempuan yang terdiri dari ibu-ibu dan para gadis. Sebelum acara ngejot dimulai, para ibu dan anak gadis lainnya ramai-ramai
berkumpul di tengah lapangan desa setempat. Perayaan ngejot ini biasanya diadakan di lapangan Wirangbaya, Desa Lenek
Pesiraman, Lombok Timur. Mereka
berkumpul di tengah lapangan, duduk berjejeran sambil membawa hantaran yang
disebut dulang (nampan sajian) yang
berisi bulayak (ketupat), lauk-pauk seperti opor ayam, opor telur,
kacang-kacangan, sate kelapa, jajan-jajanan lebaran serta kudapan khas lebaran
lainnya yang ditutupi dengan tembolaq
khas suku sasak.
| Dulang |
Tradisi
ngejot ini dimulai sore hari sampai
menjelang magrib (berbuka puasa). Adapun serangkain proses ngejot ini ditandai dengan penyerahan dulang (nampan saji) yang dilakukan oleh pemuda setempat kepada orang
tua desa (seperti tetua adat) yang digelar di tengah lapangan, hal ini sebagai
simbol dan penghormatan kalau acara ngejot
akan segera dimulai. Acaranya pun dibuka dengan kata sambutan, pemberian gula
pasir kepada warga (ibu-ibu di lapangan) dan doa. Setelah selesai, para ibu-ibu
akan berjalan beriringan semacam pawai dari lapangan menuju rumah orang tua dan
kerabat terdekat mereka masing-masing untuk menghantarkan dulang. Terlihat para warga ikut serta berpartisipasi mengikuti
tradisi ngejot ini dan saya pun sangat
antusias menyaksikan sembari mencekrek beberapa photo tradisi ngejot tersebut.
Ngejot salah satu warna budaya suku sasak dan
merupakan kekayaan tradisi budaya yang harus tetap dijaga karena dengan ngejot ini mengajarkan kita untuk tetap
bersyukur dan saling menjaga kerukunan antar sesama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar