 |
| Photo by Kak Adjie |
Berdasarkan
riset yang dilakukan oleh Dr.Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, AS bahwa
Indonesia bertengger pada peringkat kedua sebagai negara penyumbang limbah
plastik setelah Cina yang berada diposisi pertama. Setiap tahun ada sekitar 8
juta ton plastik bertebaran dan berhamburan di lautan dan Indonesia adalah
donatur limbah plastik terbesar urutan ke-2 di dunia, menyumbang limbah plastik
sebanyak 3,2 juta ton (sciencema.org). Bayangin kalau lautan yang sudah biru
nan cantik berubah menjadi lautan sampah yang dibumbui full of plastic. Ditambah
lagi menurut penelitian Conservancy tentang pasar ikan dunia, sebanyak 28% ikan
di Indonesia tercemar plastik (source : bbc Indonesia) Gilaaaaa, Ngeriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
 |
| Pict via Google |
Sampah
memang menjadi masalah yang kompleks dan masih belum teratasi di negeri ibu
Pertiwi. Meski banyak cara yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam hal
mengatasi sampah mulai dari peringatan, edukasi sampah, aksi kebersihan, mengurangi
penggunaan plastik dan lain lain. Namun faktor yang paling mendasar adalah
karena sebagian besar masyarakat kita kurang menyadari akan bahaya membuang sampah sembarangan.
Kebanyakan dari kita do not really care sama
namanya kebersihan.
Yang
menjadi big issuenya adalah kalau sampah organik bisa diolah menjadi pupuk
kompos karena bisa terurai, naaah masalahnya kalau sampah plastik, how? Dibuang
ke laut atau sungai? Dibakar?. Plastik butuh sekitar berabad-abad bahkan
bermilenia tahun buat terurai, lama banget kan.
Nah
kalian gak mau dong kalau lautan Indonesia turn into alias berubah jadi sup
lautan bertaburan sampah plastik? So mari menjadi penggiat sampah mulai dari
diri kita sendiri deh. Ayoo lakukan aksi meski sekecil apapun mengurangi sampah
plastik dengan cara yang asyik yaitu Ecobrick.
Ecobrick
adalah salah satu cara mengurangi pencemaran sampah plastik yakni dengan cara
memasukkan limbah anorganik ke dalam botol plastik hingga berisi penuh. Ecobrick ini cara yang efektif karena selain
untuk mengurangi, juga bisa mendaur ulang sampah plastik dengan menggunakan wadah
botol untuk dijadikan barang yang bermanfaat dan bernilai seperti membuat pagar,
kursi, meja, roof bottle (atap) bahkan tembok rumah. Dengan Ecobrick kita sudah menerapkan 3R: Reduce, Reuse dan Recycle.
Cara
membuat Ecobrick pun kagak butuh skill,
mesin canggih, teknisi, ataupun biaya mahal. Kalian tinggal mengisi media botol
plastik sampai penuh dan padat dengan sampah-sampah plastik seperti sampah
kemasan makanan, bungkus kopi, susu, wafer, mie instan, shampoo, sabun, minyak,
deterjen dan plastik lainnya.

Penerapan
Ecobrick ini sudah dimulai dari dulu
oleh negara-negara maju seperti Kanada, Jerman dan negara maju lainnya. Eiiiiths di
Indonesia, khusunya di Lombok, juga sudah ada lho yang apply metode Ecobrick. Untuk kalian yang kepo dan ingin
ngeliat tentang Ecobrick, bisa
berkunjung ke Bank Sampah Mandiri yang ada di Jl. Leo No. 24 Lingkungan Banjar
Selaparang, Ampenan. Disana kalian bisa belajar membuat Ecobrick dari mbak Aisyah Odist plus bisa melihat hasil-hasil buah
tangan dari olahan Ecobrick dan
sampah plastik. Pokoknya pasti menarik. Bank Sampah NTB Mandiri yang dikelola
oleh Aisyah Odist juga bekerja sama dengan teman-teman Komunitas Earth Hour menggagas gerakan 1000 Ecobrick. Setiap hari mereka berburu
sampah plastik untuk membuat Ecobrick.
 |
| Pict via Google |
 |
| Photo by Lely |
So
kalo kalian punya sampah plastik setiap hari cukup masukkan ke dalam botol plastik,
kumpulkan dan ditabung sebanyak-banyaknya deh. Kalian bisa mengelola sampah plastik
kalian sendiri. Sederhana bukan. Mari menularkan hal positif, tumpas sampah
plastik dengan Ecobrick. Dengan Ecobrick kalian sudah berkontribusi
mengakhiri polusi plastik.
Inget,
membuang sampah sembarangan berarti sama saja dengan mengotori dan mencemari alam
ciptaan Tuhan.
Selamat mencoba!