Laman

Kamis, 21 September 2017

Irama dan Warna Ribuan Penenun di Alunan Budaya Desa III Pringgasela



Photo by Bakti
Alunan Budaya Desa (ALBD) 3 Pringgasela kembali di gelar tahun ini dan merupakan tahun ke-3 dengan mengusung tema Irama dan Warna Tenun. Tema ini diambil karena sesuai dengan Pringgasela sebagai salah satu sentra pengrajin kain tenun di Lombok dengan motif-motif yang cantik, unik dan memiliki ciri khas.

Pringgasela merupakan desa yang terletak di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur. Desa ini terkenal akan keunikan kain tenunnya yang masih dibuat dengan gedogan (alat tradisional) serta proses pewarnaan alami dengan menggunakan daun-daunan dan kulit kayu. Tak jarang jika berkunjung ke desa ini, Anda akan mendengar suara tenunan di setiap sudut rumah warganya. No wonder desa ini kembali menggelar acara tahunan Alunan Budaya Desa III bertajuk Irama dan Warna Tenun.

Photo by Pubdok Pringgasela
Acara Alunan Budaya Desa ini sudah dimulai sejak tanggal 9 September 2017 dengan menyuguhkah atraksi wayang di panggung persatuan Desa Pringgasela dan juga jalan sehat yang diikuti oleh warga se-kecamatan Pringgasela. Seperti ALBD tahun sebelumnya, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan musik tradisonal seperti gendang beleq dan rantok yang berupa alat penumbuk padi yang terdiri dari alu dan lesung yang menghasilkan nada yang indah dan berirama. Ada juga Selober, alat musik yang ditiup dan terbuat dari pelepah daun enau (pohon aren) sehingga mampu menyihir para warga dengan suara musik yang dihasilkan. Selain itu, yang beda adalah ada tari tradisional “banaspatiraja yang juga ikut dipentaskan dalam perhelatan Alunan Budaya Desa III Pringgasela. 

Gendang Beleq (Photo by Bakti)
Rantok (Photo by Bakti)
Tarian Banaspatiraja (Photo by Bakti)
Sebagai puncak acara, pada hari Senin pagi tanggal 11 September 2017 digelar parade 1.350 penenun se-kecamatan Pringgasela. Ribuan penenun membanjiri dan mengepung semua sudut dengan suara khas dari tenun gedogan Desa Pringgasela. Tepatnya berlangusung demo tenun sekitar 1.350 penenun di Tugu Mopra Pringgasela. Wooow pemandangan yang luar biasa!
 
Photo by Pubdok Pringgasela

Photo by Bakti
Photo by Bakti

Acara yang dimotori oleh para pemuda se-kecamatan Pringgasela ini berlangsung meriah dan sukses. Parade 1.350 penenun yang terdiri dari ibu-ibu dan para gadis remaja pengrajin tenun ini mampu menghipnotis semua warga yang datang menyaksikan gelaran ribuan penenun tersebut. Acara ini juga dihadiri oleh para pejabat, seperti Bupati Lombok Timur, Dinas Pariwisata Lombok Timur dan pejabat lainnya serta mampu menarik perhatian para kuli tinta yang ingin mengudarakan tentang perhelatan 1.350 penenun ini. Tidak hanya itu, event ini juga mampu men-attract para wisatawan mancanegara yang berkunjung dan ingin melihat alunan irama dan warna ribuan penenun pada ALBD III.
Photo by Bakti
Photo by Bakti
Meski belum tercatat dalam rekor MURI, namun acara ini berjalan lancar dan terbilang sangat menakjubkan. Salut buat semangat para pemuda yang bersatu untuk mensukseskan dan menyemarakkan event ini. Pemuda di Desa Pringgasela sangat kreatif, apik dan bahu-membahu dalam men-create acara dengan suguhan yang bertujuan mengangkat nilai-nilai budaya warisan para leluhur, melestarikan, memperkenalkan tentang kain tenun khas Pringgasela serta mencintai tradisi dan produk lokal dari daerahnya sendiri. Ini adalah heritage yang sudah terun-temurun dilakukan oleh warga Pringgasela. Hal inilah yang patut dicontoh oleh desa-desa baik yang ada di Lombok maupun yang ada di penjuru nusantara. XoXo

Can’t wait to see ALUNAN BUDAYA DESA IV. 

Selasa, 05 September 2017

Ecobrick, Solusi Asyik Mengurangi Sampah Plastik

Photo by Kak Adjie
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Dr.Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, AS bahwa Indonesia bertengger pada peringkat kedua sebagai negara penyumbang limbah plastik setelah Cina yang berada diposisi pertama. Setiap tahun ada sekitar 8 juta ton plastik bertebaran dan berhamburan di lautan dan Indonesia adalah donatur limbah plastik terbesar urutan ke-2 di dunia, menyumbang limbah plastik sebanyak 3,2 juta ton (sciencema.org). Bayangin kalau lautan yang sudah biru nan cantik berubah menjadi lautan sampah yang dibumbui full of plastic. Ditambah lagi menurut penelitian Conservancy tentang pasar ikan dunia, sebanyak 28% ikan di Indonesia tercemar plastik (source : bbc Indonesia) Gilaaaaa, Ngeriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.  
Pict via Google
Sampah memang menjadi masalah yang kompleks dan masih belum teratasi di negeri ibu Pertiwi. Meski banyak cara yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam hal mengatasi sampah mulai dari peringatan, edukasi sampah, aksi kebersihan, mengurangi penggunaan plastik dan lain lain. Namun faktor yang paling mendasar adalah karena sebagian besar masyarakat kita kurang menyadari akan bahaya membuang sampah sembarangan. Kebanyakan dari kita do not really care sama namanya kebersihan. 

Yang menjadi big issuenya adalah kalau sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos karena bisa terurai, naaah masalahnya kalau sampah plastik, how? Dibuang ke laut atau sungai? Dibakar?. Plastik butuh sekitar berabad-abad bahkan bermilenia tahun buat terurai, lama banget kan.

Nah kalian gak mau dong kalau lautan Indonesia turn into alias berubah jadi sup lautan bertaburan sampah plastik? So mari menjadi penggiat sampah mulai dari diri kita sendiri deh. Ayoo lakukan aksi meski sekecil apapun mengurangi sampah plastik dengan cara yang asyik yaitu Ecobrick. 

Ecobrick adalah salah satu cara mengurangi pencemaran sampah plastik yakni dengan cara memasukkan limbah anorganik ke dalam botol plastik hingga berisi penuh. Ecobrick ini cara yang efektif karena selain untuk mengurangi, juga bisa mendaur ulang sampah plastik dengan menggunakan wadah botol untuk dijadikan barang yang bermanfaat dan bernilai seperti membuat pagar, kursi, meja, roof bottle (atap) bahkan tembok rumah. Dengan Ecobrick kita sudah menerapkan 3R: Reduce, Reuse dan Recycle.

Cara membuat Ecobrick pun kagak butuh skill, mesin canggih, teknisi, ataupun biaya mahal. Kalian tinggal mengisi media botol plastik sampai penuh dan padat dengan sampah-sampah plastik seperti sampah kemasan makanan, bungkus kopi, susu, wafer, mie instan, shampoo, sabun, minyak, deterjen dan plastik lainnya. 


Penerapan Ecobrick ini sudah dimulai dari dulu oleh negara-negara maju seperti Kanada, Jerman dan negara maju lainnya. Eiiiiths di Indonesia, khusunya di Lombok, juga sudah ada lho yang apply metode Ecobrick. Untuk kalian yang kepo dan ingin ngeliat tentang Ecobrick, bisa berkunjung ke Bank Sampah Mandiri yang ada di Jl. Leo No. 24 Lingkungan Banjar Selaparang, Ampenan. Disana kalian bisa belajar membuat Ecobrick dari mbak Aisyah Odist plus bisa melihat hasil-hasil buah tangan dari olahan Ecobrick dan sampah plastik. Pokoknya pasti menarik. Bank Sampah NTB Mandiri yang dikelola oleh Aisyah Odist juga bekerja sama dengan teman-teman Komunitas Earth Hour menggagas gerakan 1000 Ecobrick. Setiap hari mereka berburu sampah plastik untuk membuat Ecobrick.
Pict via Google

Photo by Lely
So kalo kalian punya sampah plastik setiap hari cukup masukkan ke dalam botol plastik, kumpulkan dan ditabung sebanyak-banyaknya deh. Kalian bisa mengelola sampah plastik kalian sendiri. Sederhana bukan. Mari menularkan hal positif, tumpas sampah plastik dengan Ecobrick. Dengan Ecobrick kalian sudah berkontribusi mengakhiri polusi plastik.  

Inget, membuang sampah sembarangan berarti sama saja dengan mengotori dan mencemari alam ciptaan Tuhan.
 
Selamat mencoba!