 |
| Warga Semokan siap-siap untuk berlebaran adat |
Ini pengalaman pertama saya
melihat dan ikut merasakan suasana perayaan “Lebaran Adat” di dusun Semokan,
desa Sukadana, Lombok Utara. Dua hari setelah lebaran idul fitri, teman saya
mengajak saya untuk berkunjung serta bersilaturrahmi dengan masyarakat di desa
Sukadana. Sekitar jam 9 pagi kami sudah berangkat. Perjalanan dari rumah saya
(Pringgasela) ke desa Sukadana sekitar 3,5 jam. Sampai di sana kami disambut
hangat oleh keluarga pak Mus, salah satu guru yang mengajar di SD Semokan Roak,
dusun adat di desa Sukadana, KLU.
 |
| Keranjang fitrah |
Pada hari sabtu, saya dan
teman-teman mengunjungi dusun Sembagek, Desa Sukadana. Dusun ini tidak jauh
dari dusun Semokan. Seperti biasa, sehari sebelum lebaran para ibu dibantu anak
gadisnya sibuk memasak hidangan khas lebaran dan membuat jajan tradisional seperti
jaja tujak, banget dan peset. Sementara penduduk laki-lakinya membuat anyaman
keranjang fitrah(zakat) untuk digunakan menaruh berbagai macam makanan yang akan
dibawa ke masjid adat.
 |
| Rumah adat Sembagek |
Di dusun Sembagek kita akan
melihat rumah adat yang masih terjaga. Rumah adat yang khas, yang hanya terdiri
dari 2 ruang; dapur dan kamar tidur. Meski terbuat dari alang-alang, namun rumah adat ini sangat kuat dan tidak bocor ketika hujan. Setiap 5 tahun sekali atap nya akan di ganti, kata salah satu warga. Saya kagum dengan masyarakat di sana, mereka tetap menjaga warisan nenek moyang dan menjalankan turun temurun budaya lebaran adat.
 |
| Dila Jojor |
Selain itu, yang unik adalah masyarakat
disana membuat dila jojor (lampu
tradisional) yang digunakan sebagai penerang karena dalam perayaan lebaran adat
tidak diperkenankan menyalakan lampu listrik. Dila jojor ini terbuat dari kemiri, kapas, dan buah jarak.
Ketiga bahan tersebut dicampur dan ditumbuk. Setelah lembut mereka melilitkan
pada kayu dan siap untuk dinyalakan.
Sorenya kami bertamu menuju dusun
Semokan, sama dengan di Sembagek disana juga masyarakatnya sibuk membuat kudapan
dan menyiapkan makanan untuk lebaran adat. Para warganya juga sangat baik dan
ramah melihat orang baru datang seperti kami. Kami mengobrol dan mengakrabkan
diri dengan masyarakat di sana, bertanya tentang lebaran adat, hal yang boleh
dan tidak boleh dipakai dan dilakukan pada saat lebaran adat sehingga kami
mendapat banyak pengetahuan tentang lebaran adat.
 |
| Kemben (pr) dan Sapuq & sarung (lk) |
 |
| Adik-adik di Semokan |
Lebaran selalu identik dengan baju
baru namun lebaran adat di Semokan ataupun Sembagek tidak akan dijumpai baju baru,
masyarkat di sana merayakan lebaran adat dengan menggunakan kemben bagi yang perempuan, bagi yang laki-laki akan memakai sapuq dan
kain. Kemben merupakan kain yang digunakan sebagai penutup badan wanita baik
itu kain motif ataupun kain tenun yang belum disambung (dijahit). Menurut kepercayaan
masyarakat di sana, khusus untuk wanita kalau ingin masuk rumah pemangku atau
kiai harus melepas baju dalam (CD dan BH), hanya boleh menggunakan kain
(kemben) sebagai penutup. Demikian dengan laki-laki menggunakan sarung dan
sapu’ yang di taruh diatas kepala.
Ketika senja tiba, para warga khusunya
yang laki-laki mulai membawa keranjang fitrah yang berisi berbagai macam
makanan ke masjid. Pada malam harinya
kegiatan pembagian fitrah berlangsung di dalam masjid adat. Hanya laki-laki
saja yang diperbolehkan masuk ke masjid adat.
 |
| Para peimpin adat dan warga di kuburan Semokan |
Minggu pagi kami bergegas untuk
menyaksikan lagi tradisi lebaran adat di Semokan. Setelah selesai sholat idul
fitri dan berkhutbah, para kiai adat dan
masyarakat yang lain menuju kuburan untuk berziarah. Mereka mendoakan sanak
keluarga yang sudah meninggal yang dipimpin oleh kiai adat. Yang unik, Masyarakat
disana membawa makanan yang ditaruh di atas kuburan untuk didoakan oleh
pemimpin atau kiai adat. Setelah selesai berdoa, ritual selanjutnya sembeq.
Sembeq yaitu ritual yang dilakukan oleh pemimpin adat dengan cara mengusap
kening/kepala warga dengan menggunakan ampas bekas kunyahan campuran sirih, buah
pinang(bua’), apur(kapur) dan gambir. Menurut warga tujuan sembeq itu bisa dijadikan sebagai obat.
 |
| proses Sembeq |
 |
| Masjid adat Semokan |
Sebenarnya masih ada acara
penutupan, berupa makan hidangan khas lebaran adat di sana, akan tetapi kami tidak mengikuti acara sampai selesai.
Kami akhirnya melanjutkan perjalanan pulang. Saya sangat terkesan dan senang
melihat masyarakat khususnya di dusun Semokan
dan Sembagek tetap menjaga dan mempertahankan tradisi adat dari nenek moyang
mereka.
Sah foto yg ada keranjang fitrahnya
BalasHapusSah foto yg ada keranjang fitrahnya
BalasHapus