Laman

Kamis, 16 November 2017

Kids Zaman Now itu adalah Kids yang ber-Gedget


“Tak ada TEGUR, TATAP, TANYA, TANGIS, TAWA, kids zaman now”. 
Sepertinya kalimat di atas cukup tepat untuk menggambarkan fenomana anak-anak kita sekarang ini. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah melihat anak-anak terutama anak sekolah dasar (SD), sudah mahir dan lihai mengoperasikan smartphone alias telpon pintar. Bermain gadget yang kebablasan sampai tak fokus pada pelajaran. Anak-anak bergadget kekinian ini didefinisakan benar-benar kids zaman now dah pokoknya. 

Saya terenyuh ketika melihat sebuah video berbahasa Thailand yang menceritakan ada pasangan suami istri yang ingin membelikan anakanya tablet (gadget) karena aplikasi game(s) di tablet itu keren dan banyak. Namun tak disangka penjual gadget tersebut malah tidak mau menjualnya dengan alasan anak mereka masih umur 5 tahun dan tablet tersebut untuk anak usia 12 tahun ke atas. Pembeli tersebut kaget dan sedikit kesal tapi dengan bijak si penjual menasehati nya seraya berkata habiskan waktu bersama anakmu karena itu lebih berharga. Woooow what an inspiring video !!!!!!

Sebaliknya malah kita di sini, dengan gampangnnya mem-feeding anak-anak kita dengan gadget. Hal ini pun membuat saya tertarik membuat coretan tentang fenomena gadget dan kids zaman now. Tak hanya itu, di lingkungan keluarga saya sendiri tak bisa saya pungkiri potret perilaku anak dengan jajanan gadget terjadi pada beberapa keponakan saya yang masih mengenyam bangku SD bahkan yang masih berumur 3 tahun sudah merajai cara mengutak-atik telpon canggih atau smartphone. Pulang sekolah, sebelum tidor bahkan di hari-hari libur pun mereka asyik memencet tombol- tombol smartphone milik orang tua mereka tanpa memperhatikan sekeliling mereka. Anak-anak zaman now kalau sudah pegang gadget, asyiknya gak ketulungan.

Sedikit melirik kebelakang jaman saya kecil dulu belum ada yang mengenal smartphone, melihat bentuk gadget seperti HP ataupun telpon saja jarang kalo tidak di TV ya paling di rumah sakit atau di pinggir jalan kota-kota besar (telpon koin zaman dulu). Naaah kids zaman now, masih balita saja sudah piawai memainkan handphone, luar biasa memang. 



Namun saya bersyukur dunia kecil saya tak mengecap rasanya  bermain gadget. Semasa kecil saya dan teman-teman asyik bermain di sawah dan sungai. Masak-masakan dengan panci dari tanah liat, bermain lumpur, berlarian, bermain tali, berpetualang, petak umpet, selodor,  dan bermain permainan tradisonal lainnya. Aaah kami merasakan masa keseruan bersama-sama. Namun kidz zaman now sudah jarang mengenal permainan-permainan tradisional, mereka lebih tertarik duduk sendiri, sibuk sendiri dan asyik sendiri dengan gadget digenggaman mereka. 



Fakta yang terjadi akhir-akhir ini adalah smartphone sudah dijadikan babysitter oleh kebanyakan orangtua. Anak rewel, ngambek, langsung disuapi dengan gadget yang berisi dengan fitur-fitur yang bervariasi dan meggoda mata anak mereka. Seolah-olah gadget sudah menjadi guardian angel atau penyelamat yang mampu menjaga anak-anak mereka biar tidak rewel dan nangis. Hal ini pun perlu ditelusuri apakah kebiasaan para orangtua mereka juga seperti itu, asyik dengan super duper handphone canggih mereka sehingga mereka pun lupa tugas sebagai orang tua dan tak menghiraukan anak-anak mereka. Karena lingkungan yang men-support akhirnya anak-anak pun tak luput berperilaku demikian.

Coba kita perhatikan, tak hanya anak kecil orang dewasa pun termakan pengaruh telepon pintar ini. Ketika berkumpul anak-anak tak ada yang memperhatikan sekeliling mereka, mereka menunduk, pencat-pencet tombol gadget mama papa, bahkan hanya terdiam tak ada suara gurauan dan candaan. Itulah yang terjadi dari kita sebagai orang dewasa kebanyakan.

Kasihan sekali anak-anak kita zaman now yang kecanduan oleh gadget. Tak ada teguran, tawa, tatap, tanya. Mereka cuek dan tak peduli dengan sekelilingnya.  Horrible disaster.

Nampaknya kids jaman now itu sudah lumpuh rasa sosialisasi mereka. Gadget bena-benar mematikan aktifitas sosial mereka. Lihat anak-anak kita pun jadi enggan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Walaupun physically mereka sedang bersama kita tapi ketika dipanggil seakan mereka meng-ignore atau tak mempedulikan teguran orang lain,  tak ada bahasa suara, buat apa????


Sebagai orang tua dan yang akan menjadi orang tua sudah saatnya lebih aware dengan fenomena tersebut. Sungguh banyak dampak negative dari penggunaan gadget apalagi berlebihan dan tidak diawasi. So…..
  • Mari kita habiskan waktu bersama anak-anak kita karena waktu bersama mereka lebih berharga.
  • Habiskan dan temani anak-anak kita bermain bersama selagi bisa bercengkrama.
  • Waktumu bersama anak-anak tak kan bisa terbeli karena sebentar lagi kau akan melihat mereka tumbuh dewasa cepat sekali.
  • Bekali mereka dengan buku-buku, bukan dengan gadget terbaru.  
  • Ajarkan mereka berinteraksi biar mereka lebih peduli
  • Ingat, Jangan sampai anak-anak kita kebablasan dan pada akhirnya kecanduan.
Polisi tidur dibuat untuk membuat pengendara agar tak se-enaknya kebut-kebutan ketika kendaraanya sedang melaju demikian juga orang tua itu ibarat polisi tidur yang tugasnya mengerem anak-anak kita agar tidak kebablasan bermain dengan telepon pintar.