Laman

Rabu, 30 November 2016

Oleh-oleh dari gunung Rinjani

pemandangan gunung Rinjani
Ingat kan lagu “naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali”. Lagu ini menginspirasi saya untuk mencoba mendaki gunung, ya ke gunung Rinjani, tahun lalu tepatnya di bulan Mei. Ingin sekali rasanya melihat pohon cemara seperti yang ada pada bait-bait lagu tersebut. Well, ini kisah perjalanan saya based on my true story.
Gunung Rinjani berdiri megah di atas permukaan laut dengan ketinggian 3726 mdpl dan termasuk salah satu deretan gunung tertinggi di Indonesia. Gunung Rinjani menyuguhkan pemandangan alam yang sangat indah, danau segara anak, barisan bukit, air terjun, gunung Anak Baru jari, padang savana juga menyimpan  banyak cerita serta mitos-mitos yang membuat orang haus ingin mendengarnya. #wisatahalallombok#wiasatahalalalomboksumbawa #halaltourismID #wisatahalalindonesia
jalur Bawa' Nao, Sembalun

Ini pertama kali saya mendaki ke Gunung. Saya pergi dengan tiga orang teman saya. Kala itu sehari sebelum berangkat, temen saya tiba-tiba mengirimkan pesan kalau besok akan ke gunung Rinjani. Saya yang terbujuk rayuan mereka, langsung bersedia untuk ikut. Meski harus izin kerja sehari. Saya pun berpikir sejenak, ini kesempatan saya untuk ke Rinjani, lumayan menghabislan long weekend yang jarang ada di kalender.  



Kami mulai perjalanan dari rumah saya di Pringgasela ke desa Ssmbalun pukul 2 sore. Sebelum berangkat, paginya saya sudah mempersiapkan apa saja yang harus saya bawa  selama mendaki dan tentunya minta izin orang tua untuk pergi.
Sampai di sembalun kami melakukan registrai di pos pendakian yang ada di Sembalun. Dari desa Sembalun kami langsung menuju pos 1,   rehat dan bermalam di sana. Meski di pos 1 Rinjani semakin terlihat jelas menyapa, hamparan savanna pun tak kalah indahnya, mulai tumbuh tinggi nan hijau. Selain itu, saya bertemu dengan beberapa pendaki dari luar Lombok, berkenalan dan bercengkrama sembari ditemani kopi dan teh hangat, semakin membuat kami akrab.  Senang sekali punya teman baru bisa berbagi pengalam Selama jalan-jalan.
menuju pos 3
Esok pagi sekitar jam 9 kami mulai melanjutkan perjalanan. Menuju pos 2, terik matahari mulai meraungkan panasnya, capek, lelah, haus dahaga sudah pasti terasa. Karena ini kali pertama saya naik gunung, saya pun banyak rehatnya. Meski lambat, namun semangat harus tetap ada.  Pelajaran yang saya ambil, ketika capek, jangan memaksakan untuk melanjutkan perjalanan, jangan gengsi untuk minta istirahat mesti sebentar. Di pos 2, kami berhenti untuk mengisi perbekalan air yang sudah habis. Pastikan di pos 2 Anda sudah punya cukup air, karena di pos selanjutnya tidak akan ada persediaan air dan perjalanan menuju ke Pelawangan lumayan lama.
Menuju pos pelawangan, hari sudah semakin sore, hawa dingin sangat terasa. Di sini saya mulai khawatir dan takut melihat medan yang agak terjal, kaki pun gemeteran dan hampir jatuh. Saya memang sedikit ceroboh, memaksakan diri terus berjalan padahal kaki sudah gemeteran, alhasil saya pun hampir jatuh tergelincir. Temen saya meminta untuk istirahat, mereka mencoba mengurangi beban barang yang ada di tas carrier saya. Kata kebanyakan pendaki, Jalur Sembalun, Lombok Timur paling gampang, buat saya ada tantangan tersendiri.
sunrise dari atas gunung Rinajni
Tepat pukul 7 malam, kami tiba di Pelawangan, kemudian kami mendirikan tenda. Saya mulai menikmati hawa yang super dahsat dinginnya, sampai badan pun menggigil rasanya. Jaket, kaos kaki dan kaos tangan pun langsung saya kenakan. Mie rebus dan teh hangat jadi santapan di waktu malam. Salah satu teman saya yang jadi guide, menyarankan untuk tidur lebih awal, karena saya berdua yang akan ke puncak. Dua teman saya diam menjaga tenda. suasana pelawangan lumayan ramai, banyak para pendaki yang memanfaatkan long weekend untuk mengunjungi gunung Rinjani. Saya tidak banyak berbicara karena tak tahan dengan dinginnya udara , tidur pun menjadi satu cara mengembalikan energi yang terporsil seharian.
Jam 2 dini hari saya dan teman saya bergegas bangun, bersiap-siap untuk memulai perjalan yang sebenarnya.  Ditemani sir minum, madu dan roti yang jadi bekal selama mendaki menuju puncak Rinjani. Pastikan memakai sepatu gunung yang ukuranya pas di kaki. Para pendaki biasanya akan mulai mendaki dini hari agar bisa melihat indahnya matahari di pagi hari dari atas gunung Rinjani. Dari Pelawangan ke puncak memakan waktu sekitar 5-6 jam.

Hampir jam 10, matahari terasa panas dan menyengat, serasa tepat berada di atas kepala. Namun saya belum bisa menacapkan kaki di puncak tertinggi. Temen saya tetiba kakinya kram, kami pun harus diam dan istirahat. Rasa hati dan semangat masih berapai-api untuk tetap mendaki summit, namun di sini saya belajar menaggalkan keegoisan diri. Saya tidak mungkin meninggalkan teman saya tergelatak sendiri menahan rasa nyeri pada kaki. Akhirnya saya pun menatap puncak Rinjani meski menangis dalam hati karena merasa gagal, menginjakkan kaki di point tertinggi Rinjani.
Dan akhirnya kami pun kembali ke pos Pelawangan. Meski gagal mencapai puncak Rinjani, namun saya sadar tentang banyak hal, Gunung bukan tentang dimana kamu bisa berdiri gagah di atas puncak nya, bukan tentang foto-foto kece dengan bunga edelwais nya, bukan pula tentang dengan danau yang jernih air nya, tapi tentang pelajaran apa yang kamu dapatkan setelah mendaki Rinjani yang sudah diciptakan Tuhan dan lebih sadar bagaimana beretika dengan alam.
Ada banyak hal yang saya bisa pelajari setelah mendaki :
  • Sebaiknya mengenal kondisi diri. Kalau ada menderita sakit ringan dan alergi bawalah obat-obatan. Yang lebih tahu fisik kita adalah diri sendiri.
  • Kenali lah medan yang akan dilewati, dengan bertanya atau membaca postingan tentang tempat yang dituju. Agar bisa lebih waspada dan hati-hati.
  • Bawalah bekal dan perlengakapan yang memudahkan dan bermanfaat. Diskusikan apa yang akan dibawa. Jangan saling mengandalkan teman.
  • Jagalah selalu etika dengan alam. Setidaknya bawalah pulang sambah sendiri, mungkin dengan cara yang kecil bisa mempengaruhi para mendaki yang gak tahu diri buang sampah sembarang disana sini.
  • Usahakan berpikir positif,. Takot dan khawatir, hal yang lumrah dan sudah biasa terjadi untuk pendaki apalagi pemula. Namun berpikirlah hal-hal yang baik yang akan terjadi.
    #wisata halal lombok sumbawa

    Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Promosi Lombok Sumbawa 2016 yang diselenggarakan oleh GenPI Lombok Sumbawahttp://bit.ly/genpi-blogwriting

Minggu, 20 November 2016

Lautan Awan di desa Mantar

suasana senja di desa Mantar
Cerita perjalanan kali ini tentang pengalaman saya berada di Desa Mantar. Lewat film yang berjudul Serdadu Kumbang, saya mengenal nama desa Mantar. Desa Mantar terletak di desa Mantar, kecamatan Pototano, Sumbawa Barat. Desa yang sangat terkenal dengan sebutan desa di atas awan.

gerbang desa Mantar 
Adapun route perjalanan jika berangkat dari kota Mataram (Lombok): Mataram-Pelabuhan Kayangan-Pototano-desa Tapir-desa Mantar. Anda hanya butuh nyebrang sekitar 2 jam menggunakan kapal laut ke Sumbawa Barat.   Namun waktu itu saya dan teman-teman berangkat dari Sumbawa Besar, butuh sekitar 3 jam untuk sampai di desa Mantar. Sebelum ke desa Mantar, kami singgah dulu dan memarkir motor di desa Tapir. Desa Tapir adalah desa yang berada di bawah desa Mantar.  Kemudian kami bertemu dengan pak Andi Noman, beliau adalah warga yang berdomisili di sana sekaligus sopir Ranger yang akan mengantar kami ke desa Mantar. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk tiba di desa Mantar jika menggunakan mobil Ranger, namun jika ingin soft trekking berjalan sampai desa Mantar butuh waktu sekitar 3 jam.
Untuk menuju desa Mantar, bisa dengan 2 alternaif yaitu menggunakan motor dan menyewa mobil Ranger.  Bagi yang sudah mengusai medan, bisa dengan motor. Namun saran saya supaya lebih aman sebaiknya menyewa mobil Ranger karena kondisi jalan yang menanjak terjal dan bebatuan serta jurang di sampingnya meski sekarang akses jalan sedang dalam perbaikan. Jika ingin menggunakan jasa mobil ranger, bisa menghubungi  pak Andi Noman (081935943889) cukup dengan membayar Rp. 40000, pak Noman siap untuk mengantar dan menjemput Anda.
lautan awan dari atas bukit desa Mantar
Tiba di desa mantar pukul 6.30 petang, Kami mulai mendirikan tenda di atas bukit, camping di desa Mantar adalah pilihan yang sangat tepat sambil menikmati suasana langit senja dan suasana desa Mantar yang damai nan tenang. Jika ingin camping di sana, jangan lupa minta izin di penduduk sekitar. Di atas bukit sudah tersedia area camping.  Semakin malam udara semakin dingin, taburan dan kilauan bintang menghiasi langit Mantar, begitu indah nan memukau. Kelap-kelip lampu pemukiman  nampak terlihat dari atas. Ditemani api unggun dengan segelas kopi semakin menghangatkan suasana dan mengakrabkan kami semua.
view dari desa Mantar
Ketika fajar menyapa, saya dan teman-teman saya sudah siap memburu sunrise. Perlahan matahari mulai tersenyum manis. Yang paling menakjubkan ketika melihat lautan awan dari desa Mantar, bak bunga kapas ringan berterbangan, ingin rasanya bermain dengan awan-awan yang menghiasi cakrawala. Tak salah kalau desa Mantar dijuluki negeri di atas awan, lautan awan begitu mempesona.
Sebelum pulang kami melihat para atlet paralayang yang akan latihan dari atas bukit karena setiap bulan September diadakan lomba paralayang di desa Mantar. Desa Mantar juga sebagai arena buat para pegiat paralayang untuk latihan (terjun).
desa Mantar 
Sepertinya kaki tak mau beranjak dari desa Mantar yang sudah memanjakan mata dengan view yang luar biasa indah. Setelah sarapan, kami bersiap untuk kembali pulang. Sayangnya saya belum sempat berkeliling rumah penduduk di desa Mantar karena tidak punya cukup waktu, hanya mengambil beberapa gambar rumah dan sekolah. Namun saya akan kembali untuk menuliskan cerita tentang keunikan dan mitos di desa Mantar.
Ingat pencinta alam boleh menikmati alam tapi jangan lupa jaga kebersihan selagi jalan-jalan J