Laman

Jumat, 10 Maret 2017

SDN 3 FILIAL BILOK PETUNG : Sekolah di atas bukit yang miris dan bikin nangis

SDN 3 Filial Bilok Petung 
“Meski sekolah di atas bukit namun semangat belajar kami melangit” Sepenggal kalimat yang terlintas di kepala saya ketika menulis tentang sebuah sekolah yang berada di atas bukit. Pada waktu itu saya dan teman saya sedang survey sekolah-sekolah yang ada di kecamatan Sembalun untuk kegiatan Kelas Inspirasi. Kemudian kami mendapat informasi kalau ada sekolah di atas bukit. Lalu kami bergegas mencari sekolah tersebut. Pertama kali ke sekolah ini, saya dan temen saya hanya berjumpa dengan salah seorang gurunya yaitu ibu Musniati. Karena kebetulan waktu itu masih libur tahun baru, jadi murid-murid sekolah tersebut belum masuk. Ya, nama sekolah itu adalah SDN 3 Filial Bilok Petung.
kondisi kelas SDN 3 Filial Bilok Petung 
Ternyata Jauh di pedalaman desa Bilok Petung kecamatan Sembalun, Lombok Timur ada sekolah tersembunyi di atas bukit yaitu SDN 3 Filial Bilok Petung. Filial berarti sekolah yang diperuntukkan atau dikhususkan untuk menampung siswa-siswi yang jarak tempat tinggalnya jauh dari sekolah induk. SDN 3 Filial Bilok Petung merupakan sekolah yang berinduk di SDN 3 Bilok Petung. Sekolah ini tepatnya berada di dusun Batu Jong, desa Bilok Petung, kec. Sembalun.
Papan yang dipakai mengajar semua kelas 1-6
Menurut keterangan bu Mus, guru honor yang mengajar di sana, sekolah ini sudah berdiri sejak 2009, namun bangunan sekolahnya belum ada. Sekolah filial ini sebelumnya numpang di balai pertemuan dinas sosial.  Pada tahun 2014 barulah bangunan sekolah filial 3 Bilok Petung ini dibangun. Meski hanya satua ruangan saja.
Penduduk di Batu Jong rata-rata mata pencarian mereka sebagai petani jambu mete (jambu monyet), sekitar 50 kepala keluarga  mendiami desa Batu Jong ini. Akses jalan menuju sekolah ini cukup rata dan sudah ada hotmik mesti di beberapa ruas jalan harus diperbaiki.  Karena kecil haruslah berhati-hati ketika menaiki dan turun di jalan desa tersebut. Jarak tempuh dari ibu kota ke sekolah ini sekitar 3 jam.
Meski harus mengahabiskan waktu sekitar 3 jam lamanya, namun ketika sampai di desa Batu Jong kami merasa bahagia. Kami dimanjakan dengan pemandangan desa yang dibumbui oleh panorama gunung Rinjani. Kebun, ladang dan hutan hijau yang menambah kesejukan desa. Karena daerah ini berada di dataran tinggi, jadi kami dengan leluasa bisa melihat lautan luas nan biru.  Selain itu uniknya rumah-rumah penduduk hampir semua bangunannya sama hanya dengan bilik 2 kamar saja. Untuk fasilitas air, penduduk di sana mendapatkan air yang cukup berlimpah ruah.
Di kali kedua saya menyambangi sekolah ini, saya dan teman saya pun berangkat dari Mataram dan memilih jalur Bayan, Lombok Utara karena lebih deket 11km. Jam 7 kami mulai berangkat dan sekitar jam 9.30 kami sudah sampai di sekolahnya. Kami sangat beruntung karena bisa bertemu murid-murid SDN Filial 3 Bilok Petung yang sedang asyik belajar.

Bersama salah satu guru dan murid-murid 
Sampai di sana kami disambut hangat oleh bu Mus dan wajah riang nan semangat para siswa. Bersama bu Mus kami bercengkrama tentang suka duka mengajar di sana. Kami juga melihat bagaimana guru mengajar kelas 1-5 SD dalam satu ruangan. Bisa dibayangkan mengajar kelas yang berbeda dalam satu ruang kelas. Sedihnya lagi hanya ada papan tulis kecil usang. Yang kami tak sangka, dengan papan seadanya ini, buk Mus harus gantian menjelaskan kepada siswa kelas 1-5. Ketika bu Mus menjelaskan dan menuliskan materi untuk kelas 1 di papan, maka kelas 1 akan menulis di buku, sementara kelas 2-5 akan diam dan ikut memperhatikan. Selesai kelas 1, bu Mus akan melanjutkan dengan materi kelas 2 dan menuliskannya di papan kemudian kelas lainnya akan diam duduk manis, begitu seterusnya sampai selesai. Pemandangan ini yang membuat pilu sekaligus iba.
seorang siswa sedang belajar menanam bunga
Kelas dengan jumlah siswa hanya 17 orang yang terdiri atas kelas I ada dua orang, kelas II ada empat orang, kelas III ada tujuh orang, kelas IV ada tiga orang, kelas V ada 1 orang dan tahun ini kelas VI tidak ada. Sekolah filial ini sudah menamatkan 2 kali alumni. Namun tahun ini kelas 6 harus absen. Setiap mengikuti UAN, murid kelas 6 harus turun ke sekolah induk di SDN 3 Bilok Petung untuk mengikuti ujian dan itu jaraknya lumayan jauh, meski menggunakan kendaraan yang tidak semua orang tua punya akses kendaraan pribadi untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah induk.  
belajar bahasa inggris bersama adik-adik SDN 3 Filial 
Meski papan tulis seadanya, satu ruang kelas untuk semua siswa, tak ada hiasan dinding menyapa mata dan kursi meja seadanya. Namun semangat belajar murid-murid SDN 3 Filial Bilok Petung membara. Hal ini terlihat ketika buk Mus mengajarkan menanam bunga di pot gelas plastic, mereka sangat antusias belajar menanam bunga. Kami juga ikut mengajak adik-adik bermain sambil belajar bahasa inggris tentang number dan mereka sangat senang sekali.
Sebelum pamit, kami pun sempat bertanya tentang keinginan dan harapan ibu Mus selaku pengajar di sana. Guru-guru di sana berharap agar pemerintah segera memberikan bantuan untuk membuatkan skat (space) di ruang kelas sehingga siswa-siswa bisa belajar di ruangannya masing-masing dan tidak belajar di  ruangan yang sama.  Fasilitas papan tulis dan kursi-meja yang layak. Dan tak kalah pentingnya, sumber belajar untuk guru dan siswa yang masih sangat terbatas di sana.
Semoga dengan unek-unek ini bisa dibaca oleh para penguasa sehingga bisa tersentuh dan tergerak hati mereka untuk mencari solusi yang lebih baik guna memperbaiki apa yang bisa diperbaiki untuk sekolah yang berada di atas bukit sana. Karena anak-anak di bukit sana juga anak-anak Indonesia yang berhak mendapat pendidikan yang baik pula. Semangaat. 


Minggu, 05 Maret 2017

Field Trip bersama SFC dan murid SDI Ar-Rahmah, Malaka KLU

Foto bersama di IslamicCentre
Pada sabtu, 25 Februari 2017 teman-teman dari Share For Care mengajak saya untuk ikut Field Trip bersama siswa-siswi SDI Ar-Rahmah Malaka. Share For Care (SFC) adalah sebuah gerakan komunitas yang fokus pada bantuan pendidikan untuk anak-anak lokasi terpencil dan minim akses. Salah satu kegiatan SFC adalah Field Trip. Field Trip merupakan agenda tahunan SFC yang bertujuan mengajak siswa-siswi binaan untuk belajar dan berlibur ke kota Mataram. Tujuan adik-adik belajar ke Mataram adalah agar menambah wawasan dan pengetahuan tentang dunia luar sehingga memacu semangat belajar mereka dalam meraih cita-cita. 
adik-adik menunjukan karyanya
Kali ini para volsfares, sebutan untuk para volunteer dari SFC membawa serta murid SDI Ar-Rahmah Malaka, Lombok Utara berkunjung ke tempat-tempat penting dan bersejarah yang ada di kota Mataram. Sekitar 15 murid mengikuti field trip ini. Para volsfares sudah bersiap menjemput rombongan adik-adik SDI di Malaka pukul 7 pagi. Dengan menggunakan bus dari Malaka menuju Mataram sekitar 45 menit, so then the journey is started.
Yanti membuat motif bintang dan jantung dengan kertas bekas
Field trip yang pertama kami mengunjungi The Griya Lombok, tempat dimana kertas-kertas bekas disulap menjadi barang-barang berkelas. Disana kami belajar membuat berbagai macam kerajinan kertas  seperti kura-kura, bentuk love, mangkok, bintang, pedang dan lain-lain. Kami juga bertemu dengan pemilik The Griya yaitu kak Teo. Kak Teo sangat welcome, bersama kak Teo kami diajarkan bagaimana teknik mewarnai pada media kertas dengan tulisan yang sudah dibentuk, seru banget pastinya. Kami juga berkeliling melihat hasil karya kak Teo dari kertas-kertas seperti kursi, meja, hiasan dinding, dan masih banyak lagi. Pokoknya semua kertas bekas jadi barang bernilai tinggi dan bermanfaat deh.
mendengar penjelasan bapak pemandu di museum NTB 
Kami pun melanjutkan Field trip kedua yaitu ke Museum NTB. Kami dipandu oleh salah seorang guide dari Museum. Kami diajak masuk melihat banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah. Mulai dari miniatur candi Prambanan dan candi Borobudur, baju adat Sasak, Sumbawa dan Bima kemudian ada juga perlengkapan upacara, keris, pedang, kuda-kudaan atau jaran kumput dan masih banyak peninggalan budaya dan sejarah lainnya.  Kami sangat senang sekali karena kami jadi banyak tahu tentang peninggalan sejarah yang ada di Museum NTB.
Setelah puas jalan-jalan di museum NTB, kami melanjutkan field trip ke Islamic Centre. Islamic Centre ini sangat besar sekali. Di sana kami melihat menara Asmaul Husna yang tingginya 99 meter, sangat indah. Kami juga masuk ke dalam masjid yang ada di Islamic Centre dan bisa melihat kubah masjid yang sangat menarik dengan motif kain khas Lombok “sasambo” (Sasak, Samawa, Mbojo).
menonton di CinemaXX
Meski capek namun kami masih semangat untuk menjelajahi setiap sudut kota Mataram. Perjalanan selanjutnya kami ke LCC (Lombok City Centre) untuk menonton film Salawaku di CinemaXX. Namun, sebelum menonton film kami bersantai sejenak dan makan siang di KFC. Kemudian tiba saatnya kami menonton film Salawaku. Film yang menceritakan tentang perjalanan Salawaku dan berlatar di provinsi Maluku. Kami sangat menikmati filmnya dan excited bisa menonton di bioskop yang layarnya segeda gaban, besar sekali.
Pose bahagia bersama adik-adik SDI Ar-Rahmah di KFC
Finally, we end up our journey by having fun di Funworld. Kami menikmati beragam bermain seperti mini train, happy swing, super plane dan masih banyak lagi. Hari ini sangat menyenangkan sekali bisa melihat adik-adik SDI Ar-Rahmah gembira ria.


Terima kasih kakak-kakak SFC yang sudah mengajak kami melihat kota Mataram, liburan sekaligus belajar hal-hal baru yang bermanfaat.  Terima kasih juga buat adik-adik SDI Ar-Rahmah Malaka, yang sudah menginspirasi kami untuk tetap semangat menjadi orang yang lebih peduli dan berbagi buat sesama. Hidup ini bermanfaat ketika bisa membuat orang lain tersenyum bahagia. Tetap semangat.