![]() |
| SDN 3 Filial Bilok Petung |
“Meski sekolah di atas bukit
namun semangat belajar kami melangit” Sepenggal kalimat yang terlintas di
kepala saya ketika menulis tentang sebuah sekolah yang berada di atas bukit. Pada
waktu itu saya dan teman saya sedang survey sekolah-sekolah yang ada di
kecamatan Sembalun untuk kegiatan Kelas Inspirasi. Kemudian kami mendapat
informasi kalau ada sekolah di atas bukit. Lalu kami bergegas mencari sekolah
tersebut. Pertama kali ke sekolah ini, saya dan temen saya hanya berjumpa
dengan salah seorang gurunya yaitu ibu Musniati. Karena kebetulan waktu itu masih libur tahun baru,
jadi murid-murid sekolah tersebut belum masuk. Ya, nama sekolah itu adalah SDN 3 Filial Bilok Petung.
![]() |
| kondisi kelas SDN 3 Filial Bilok Petung |
![]() |
| Papan yang dipakai mengajar semua kelas 1-6 |
Menurut keterangan bu Mus, guru honor yang mengajar di sana, sekolah ini
sudah berdiri sejak 2009, namun bangunan sekolahnya belum ada. Sekolah filial
ini sebelumnya numpang di balai pertemuan dinas sosial. Pada tahun 2014 barulah bangunan sekolah
filial 3 Bilok Petung ini dibangun. Meski hanya satua ruangan saja.
Penduduk di Batu Jong
rata-rata mata pencarian mereka sebagai petani jambu mete (jambu monyet),
sekitar 50 kepala keluarga mendiami desa
Batu Jong ini. Akses jalan menuju sekolah ini cukup rata dan sudah ada hotmik mesti
di beberapa ruas jalan harus diperbaiki.
Karena kecil haruslah berhati-hati ketika menaiki dan turun di jalan
desa tersebut. Jarak tempuh dari ibu kota ke sekolah ini sekitar 3 jam.
Meski harus mengahabiskan waktu sekitar 3 jam lamanya, namun ketika
sampai di desa Batu Jong kami merasa bahagia. Kami dimanjakan dengan
pemandangan desa yang dibumbui oleh panorama gunung Rinjani. Kebun, ladang dan
hutan hijau yang menambah kesejukan desa. Karena daerah ini berada di dataran
tinggi, jadi kami dengan leluasa bisa melihat lautan luas nan biru. Selain itu uniknya rumah-rumah penduduk
hampir semua bangunannya sama hanya dengan bilik 2 kamar saja. Untuk fasilitas
air, penduduk di sana mendapatkan air yang cukup berlimpah ruah.
Di kali kedua saya menyambangi
sekolah ini, saya dan teman saya pun berangkat dari Mataram dan memilih jalur
Bayan, Lombok Utara karena lebih deket 11km. Jam 7 kami mulai berangkat dan
sekitar jam 9.30 kami sudah sampai di sekolahnya. Kami sangat beruntung karena
bisa bertemu murid-murid SDN Filial 3 Bilok Petung yang sedang asyik belajar.
![]() |
| Bersama salah satu guru dan murid-murid |
Sampai di sana kami disambut
hangat oleh bu Mus dan wajah riang nan semangat para siswa. Bersama bu Mus kami
bercengkrama tentang suka duka mengajar di sana. Kami juga melihat bagaimana
guru mengajar kelas 1-5 SD dalam satu ruangan. Bisa dibayangkan mengajar kelas
yang berbeda dalam satu ruang kelas. Sedihnya lagi hanya ada papan tulis kecil
usang. Yang kami tak sangka, dengan papan seadanya ini, buk Mus harus gantian
menjelaskan kepada siswa kelas 1-5. Ketika bu Mus menjelaskan dan menuliskan materi
untuk kelas 1 di papan, maka kelas 1 akan menulis di buku, sementara kelas 2-5
akan diam dan ikut memperhatikan. Selesai kelas 1, bu Mus akan melanjutkan
dengan materi kelas 2 dan menuliskannya di papan kemudian kelas lainnya akan
diam duduk manis, begitu seterusnya sampai selesai. Pemandangan ini yang
membuat pilu sekaligus iba.
![]() |
| seorang siswa sedang belajar menanam bunga |
Kelas dengan jumlah siswa
hanya 17 orang yang terdiri atas kelas I ada dua orang, kelas II ada empat
orang, kelas III ada tujuh orang, kelas IV ada tiga orang, kelas V ada 1 orang
dan tahun ini kelas VI tidak ada. Sekolah filial ini sudah menamatkan 2 kali
alumni. Namun tahun ini kelas 6 harus absen. Setiap mengikuti UAN, murid kelas
6 harus turun ke sekolah induk di SDN 3 Bilok Petung untuk mengikuti ujian dan
itu jaraknya lumayan jauh, meski menggunakan kendaraan yang tidak semua orang
tua punya akses kendaraan pribadi untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah
induk.
![]() |
| belajar bahasa inggris bersama adik-adik SDN 3 Filial |
Meski papan tulis seadanya, satu
ruang kelas untuk semua siswa, tak ada hiasan dinding menyapa mata dan kursi
meja seadanya. Namun semangat belajar murid-murid SDN 3 Filial Bilok Petung membara. Hal ini
terlihat ketika buk Mus mengajarkan menanam bunga di pot gelas plastic, mereka
sangat antusias belajar menanam bunga. Kami juga ikut mengajak adik-adik
bermain sambil belajar bahasa inggris tentang number dan mereka sangat senang
sekali.
Sebelum pamit, kami pun
sempat bertanya tentang keinginan dan harapan ibu Mus selaku pengajar di sana.
Guru-guru di sana berharap agar pemerintah segera memberikan bantuan untuk
membuatkan skat (space) di ruang kelas sehingga siswa-siswa bisa belajar di
ruangannya masing-masing dan tidak belajar di
ruangan yang sama. Fasilitas papan
tulis dan kursi-meja yang layak. Dan tak kalah pentingnya, sumber belajar untuk
guru dan siswa yang masih sangat terbatas di sana.
Semoga dengan unek-unek ini
bisa dibaca oleh para penguasa sehingga bisa tersentuh dan tergerak hati mereka
untuk mencari solusi yang lebih baik guna memperbaiki apa yang bisa diperbaiki
untuk sekolah yang berada di atas bukit sana. Karena anak-anak di bukit sana
juga anak-anak Indonesia yang berhak mendapat pendidikan yang baik pula. Semangaat.











